engertian Perubahan Sosial

Posted by’ on September 9, 2012

Teori dan Pengertian Perubahan Sosial

Perubahan sosial secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses pergeseran atau berubahnya struktur/tatanan didalam masyarakat, meliputi pola pikir yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang lebih bermartabat.Teori dan Pengertian Perubahan Sosial

Pada dasarnya setiap masyarakat yang ada di muka bumi ini dalam hidupnya dapat dipastikan akan mengalami apa yang dinamakan dengan perubahan-perubahan. Adanya perubahan-perubahan tersebut akan dapat diketahui bila kita melakukan suatu perbanding­an dengan menelaah suatu masyarakat pada masa tertentu yang kemudian kita bandingkan dengan keadaan masyarakat pada waktu yang lampau. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat,pada dasarnya merupakan suatu proses yang terus menerus, ini berarti bahwa setiap masyarakat pada kenyataannya akan mengalami perubahan-peru­bahan.

Tetapi perubahan yang terjadi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain tidak selalu sama. Hal ini dikarenakan adanya suatu masyarakat yang meng­alami perubahan yang lebih cepat bila dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan-perubahan yang tidak menonjol atau tidak menampakkan adanya suatu perubahan. Juga terdapat adanya perubahan-perubahan yang memiliki pengaruh luas maupun terbatas. Di samping itu ada juga perubahan-perubahan yang prosesnya lambat, dan perubahan yang berlangsung dengan cepat.

 

Pengertian Perubahan Sosial

Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat pada umumnya menyangkut hal yang kompleks. Oleh karena itu Alvin L. Bertrand menyatakan bahwa perubahan sosial pada dasarnya tidak dapat diterangkan oleh dan berpegang teguh pada faktor yang tunggal. Menurut Robin Williams, bahwa pendapat dari faham diterminisme monofaktor kini sudah ketinggalan zaman, dan ilmu sosiologi modern tidak akan menggunakai interpretasi-interpretasi sepihak yang mengatakan bahwa perubahan itu hanya disebabkap oleh satu faktor saja.

Jadi jelaslah, bahwa perubahan yang terjadi pada masyarakat tersebut disebabkah oleh banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi. Karenanya perubahan yang terjadi di dalam masyarakat itu dikatakan berkaitan dengan hal yang kompleks. Tentang perubahan sosial ini, beberapa sosiolog memberikan beberapa definisi perubahan sosial yang dapat membantu kita untuk lebih mudah memahami apa sebenarnya perubahan sosial tersebut, adalah sebagai berikut :

Pengertian Perubahan Sosial Menurut Ahli

  1. William F.Ogburn mengemukakan bahwa “ruang lingkup perubahan-perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun yang immaterial, yang ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial”.
  2. Kingsley Davis mengartikan “perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat”.
  3. MacIver mengatakan “perubahan-perubahan sosial merupakan sebagai perubahanperubahan dalam hubungan sosial (social relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial”.
  4. JL.Gillin dan JP.Gillin mengatakan “perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, idiologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat”.
  5. Samuel Koenig mengatakan bahwa “perubahan sosial menunjukkan pada modifikasimodifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia”.f. Definisi lain adalah dari Selo Soemardjan. Rumusannya adalah “segala perubahanperubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat”.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian perubahan sosial adalah perubahan perubahan yang terjadi pada masyarakat yang mencakup perubahan dalam aspek-aspek struktur dari suatu masyarakat, ataupun karena terjadinya perubahan dari faktor lingkung an, karena berubahnya komposisi penduduk, keadaan geografis, serta berubahnya sistem hubungan sosial, maupun perubahan pada lembaga kemasyarakatannya.

Nah itulah sedikit teori dan pengertian perubahan sosial, semoga bermanfaat.

Posted on by elvimonasari | Leave a comment

MAKALAH KEPERAWATAN PROFESIONAL

 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Seiring dengan berjalannya waktu profesi sebagai seorang perawat adalah profesi yang dituntut untuk mengembangkan dirinya untuk berpartisipasi aktif dalam sistem pelayanan kesehatan. Banyak hak-hak yang harus dilakukan seorang perawat agar dapat menjadi tenaga keperawatan yang mempunyai kualitas. Tidak hanya seorang perawat yang mempunyai hak-hak tetapi seorang pasien juga mempunyai hak-hak untuk mendapatkan kebutuhan yang diperlukan oleh pasien. Ada beberapa jenis hak yang dibutuhkan oleh seorang pasien yaitu Hak untuk memilih/kebebasan, Hak kesejahteraan, Hak legislatif.
B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian Tantangan Profesi Keperawatan dan Hak Pasien
2.      Klasifikasi Tantangan dalam Keperawatan
3.      Jenis – Jenis Hak Pasien
4.      Syarat yang Mempengaruhi Penentuan Hak-Hak Pasien
5.      Hak – Hak Pasien
 
C.    Tujuan
1.      Mengetahui pengertian tantangan profesi dan hak pasien
2.      Menjabarkan klasifikasi tantangan dalam keperawatan
1
3.      Menjelaskan jenis – jenis hak pasien
4.      Mengetahui syarat yang mempengaruhi hak – hak pasien
5.      Menjabarkan hak – hak pasien
 
 
D.    Pembatasan Masalah
Karena masalah mengenai tantangan hak – hak pasien sangat luas , maka kelompok kami hanya membahas tentang pengertian , klasifikasi, jenis – jenis, syarat – syarat, dan hak – hak pasien.
                                                                                      
 
 
 
 
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Tantangan Profesi Keperawatan dan Hak Pasien
 
Tantangan profesi keperawatan adalah profesi yang sudah mendapatkan pengakuan dari profesi lain, dituntut untuk mengembangkan dirinya untuk berpartisipasi aktif dalam sistem pelayanan kesehatan agar keberadaannya mendapat pengakuan dari masyarakat. Untuk mewujudkan pengakuan tersebut, maka perawat masih harus memperjuangkan langkah-langkah profesionalisme sesuai dengan keadaan dan lingkungan sosial.
Tantangan internal profesi keperawatan adalah meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga keperawatan sejalan dengan telah disepakatinya keperawatan sebagai suatu profesi pada lokakarya nasional keperawatan tahun 1983, sehingga keperawatan dituntut untuk memberikan pelayanan yang bersifat professional.
Tantangan eksternal profesi keperawatan adalah kesiapan profesi lain untuk menerima paradigma baru yang kita bawa.
Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan kebutuhan pribadinya sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas. Setiap manusia mempunyai hak asasi untuk berbuat, menyatakan pendapat, memberikan sesuatu kepada orang lain dan menerima sesuatu dari orang lain atau lembaga tertentu.
 
Hak-hak pasien dan perawat pada prinsipnya tidak terlepas pula dengan hak-hak manusia atau lebih dasar lagi hak asasi manusia. Hak asasi manusia tidak tanpa batas dan merupakan kewajiban setiap negara/pemerintah untuk menentukan batas-batas kemerdekaan yang dapat dilaksanakan dan dilindungi dengan mengutamakan kepentingan umum.
B.     Klasifikasi Tantangan dalam Keperawatan
 
Klasifikasi dari tantangan keliputan antara lain :
 
1. Terjadi pergeseran pola masyarakat Indonesia
a) Pergeseran pola masyarakat agrikultural ke masyarakat industri dan masyarakat tradisional berkembang menjadi masyarakat maju.
b) Pergeseran pola kesehatan yaitu adanya penyakit dengan kemiskinan seperti infeksi, penyakit yang disebabkan oleh kurang gizi dan pemukiman yang tidak sehat, adanya penyakit atau kelainan kesehatan akibat pola hidup modern.
c) Pergerakan umur harapan hidup juga mengakibatkan masalah kesehatan yang terkait dengan masyarakat lanjut usia seperti penyakit generatif.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Perkembangan IPTEK menuntut kemampuan spesifikasi dan penelitian bukan saja dapat memanfaatkan IPTEK, tetapi juga untuk menapis dan memastikan IPTEK sesuai dengan kebutuhan dan social budaya masyarakat Indonesia yang akan diadopsi. IPTEK juga berdampak pada biaya kesehatan yang makin tinggi dan pilihan tindakan
 
penanggulangan masalah kesehatan yang makin banyak dan kompleks selain itu dapat menurunkan jumlah hari rawat. Penurunan jumlah hari rawat mempengaruhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang lebih berfokus kepada kualitas bukan hanya kuantitas, serta meningkatkankebutuhan untuk pelayanan / asuhan keperawatan di rumah dengan mengikutsetakan klien dan keluarganya.
3. Globalisasi dalam pelayanan kesehatan
Globalisasi yang akan berpengaruh terhadp perkembangan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan ada 2 yaitu ;
a) Tersedianya alternatif pelayanan
b) persaingan penyelenggaraan pelayanan untuk menarik minat pemakai jasa pemakai kualitas untuk memberikan jasa pelayanan kesehatan yang terbaik.
4. Tuntutan profesi keperawatan
Keyakinan bahwa keperawatan merupakan profesi harus disertai dengan realisasi pemenuhan karakteristik keperawatan sebagai profesi yang disebut dengan professional.
 
C.    Jenis – Jenis Hak Pasien
1.Hak untuk memilih/kebebasan
Yaitu hak orang-orang untuk hidup sesuai dengan pilihannya dalam batas-batas yang telah ditentukan.
 
 
Contoh :
Seorang perawat wanita yang bekerja dirumah sakit dapat mempergunakan seragam yang diiginkan (haknya) asalkan berwarna putih bersih dan sopan sesuai dengan batas-batas. Batas-batas ini merupakan kebijakan RS dan suatu norma yang ditetapkan perawat.
2. Hak kesejahteraan
Yaitu hak-hak yang diberikan secara hukum untuk untuk hal-hal yang merupakan standar keselamatan spesifik dalam suatu bangunan atauwilayah tertentu.
Contoh :
Hak pasien untuk memperoleh asuhan keperawatan, hak penduduk memperoleh air bersih, dan lain-lain.
3. Hak legislatif
Yaitu hak yang diterapkan oleh hukum berdasarkan konsep keadilan.
Contoh :
Seorang wanita mempunyai hak legal untuk tidak diperlakukan semena-mena oleh suaminya.
Bandman dan Bandman (1986) menyatakan bahwa hak legislatif mempunyai 4 peranan
 
dimasyarakat yaitu membuat peraturan, mengubah peraturan, membatasi moral terhadap peraturan yang tidak adil, memberikan keputusan pengadilan atau menyelesaikan perselisihan.
D.    Syarat yang Mempengaruhi Penentuan Hak-Hak Pasien
1. Kebebasan untuk menggunakan hak yang dipilih oleh seseorang lain, orang yang bersangkutan tidak disalahkan atau dihukum karena menggunakan atau tidak menggunakan hak tersebut.
Contoh :
Pasien mempunyai hak untuk pengobatan yang ditetapkan oleh dokter, tapi dia mempunyai hak untuk menerima atau menolak pengobatan tersebut.
2. Seseorang mempunyai tugas untuk memberikan kemudahan bagi orang lain untuk menggunakan hak-haknya.
Contoh :
Perawat mempunyai tugas untuk meyakinkan dan melindungi hak paisen untuk mendapatkan pengobatan.
3. Hak harus sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan, yaitu persamaan, tidak memihak dan kejujuran.
 
Contoh :
Semua pasien mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan.
4.Hak untuk dapat dilaksanakan.
Contoh :
Dibeberapa Rs, para penentu kebijakan mempunyai tugas untuk memastikan bahwa pemberian hak-hak asasi manusia dilaksanakan untuk semua pasien.
5. Apabila hak seseorang bersifat membahayakan, maka hak tersebut dapat dikesampingkan atau ditolak dan orang tersebut akan diberi kompensasi atau pengganti.
Contoh :
Apabila nama pasien tertunda dari jadwal pembedahan dengan tidak disengaja, pasien dikompensasikan untuk ditempatkan bagian tertas dari daftar pembedahan berikutnya (bila terjadi kekeliruan )
 
E.     Hak – Hak Pasien
1.Hak memberikan consent (persetujuan)
Consent mengandung arti suatu tindakan atau aksi beralasan yang diberikan tanpa paksaan oleh seseorang yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang keputusan yang
 
ia berikan, dimana secara hukum orang tersebut secara hukum mampu memberikan
consent. Consent diterapkan pada prinsip bahwa setiap manusia dewasa mempunyai hak untuk menentukan apa yang harus dilakukan terhadapnya. Kriteria consent yang sah :
 
a. Tertulis
b.Ditandatangani oleh pasien atau orang yang bertanggung jawab terhadapnya
c.Hanya ada salah satu prosedur yang tepat dilakukan
d.Memenuhi beberapa elemen penting : penjelasan kondisi, prosedur dan konsekuensinya, penanganan atau prosedur alternative, manfaat yang diharapkan, Tawaran diberikan oleh pasien dewasa yang secara fisik dan mental mampu membuat keputusan
2. Hak untuk memilih mati
Keputusan tentang kematian dibuat berdasarkan standar medis oleh dokter, salah satu kriteria kematian adalah mati otak atau brain death. Hak untuk memilih mati sering bertolak belakang dengan hak untuk tetap mempertahankan hidup.
 
3. Hak perlindungan bagi orang yang tidak berdaya
Yang dimaksudkan dengan golongan orang yang tidak berdaya disini adalah orang dengan gangguan mental dan anak-anak dibawah umur serta remaja dimana secara hukum mereka tidak dapat membuat keputusan tentang nasibnya sendiri, serta golongan usia lanjut yang sudah mengalami gangguan pola berpikir maupun kelemahan fisik.
4. Hak pasien dalam penelitian
Penelitian sering dilakukan dengan melibatkan pasien. Setiap penelitian misalnya penggunaan obat atau cara penanganan baru yang melibakan pasien harus memperhatikan aspek hak pasien. Sebelum pasien terlibat, kepada mereka harus diberikan informasi secara jelas tentang percobaan yang dilakukan, bahaya yang timbul dan kebebasan pasien untuk menolak atau menerima untuk berpartisipasi. Apabila perawat berpartisipasi dalam penelitian yang melibatkan pasien, maka perawat harus yakin bahwa hak pasien tidak dilanggar baik secara etik maupun hukum. Untuk itu perawat harus memahami hak-hak pasien : membuat keputusan sendiri untuk berpartisipasi, mendapat informasi yang lengkap, menghentikan partisipasi tanpa sangsi, mendapat privasi, bebas dari bahaya atau resiko cidera, percakapan tentang sumber-sumber pribadi dan hak terhindar dari pelayanan orang yang tidak kompeten.
 
 
 
 
BAB III
PENUTUP
 
  1. Kesimpulan
Kesimpulannya bahwa Tantangan profesi keperawatan adalah suatu profesi yang sudah mendapatkan pengakuan dari profesi lain, dituntut untuk mengembangkan dirinya untuk berpartisipasi aktif dalam sistem pelayanan kesehatan agar keberadaannya mendapat pengakuan dari masyarakat. Hak-hak pasien dan perawat pada prinsipnya tidak terlepas pula dengan hak-hak manusia atau lebih dasar lagi hak asasi manusia. Hak asasi manusia tidak tanpa batas dan merupakan kewajiban setiap negara/pemerintah untuk menentukan batas-batas kemerdekaan yang dapat dilaksanakan dan dilindungi dengan mengutamakan kepentingan umum.
  1. Saran
Sarannya adalah untuk mewujudkan pengakuan tersebut, maka perawat masih harus memperjuangkan langkah-langkah profesionalisme sesuai dengan keadaan dan lingkungan sosial.
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 

http://stikeskabmalang.wordpress.com/2009/09/19/berbagai-tantangan-dalam-profesi-keperawatan/

Posted on by elvimonasari | Leave a comment

MAKALAH KEPERAWATAN PROFESIONAL

 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Seiring dengan berjalannya waktu profesi sebagai seorang perawat adalah profesi yang dituntut untuk mengembangkan dirinya untuk berpartisipasi aktif dalam sistem pelayanan kesehatan. Banyak hak-hak yang harus dilakukan seorang perawat agar dapat menjadi tenaga keperawatan yang mempunyai kualitas. Tidak hanya seorang perawat yang mempunyai hak-hak tetapi seorang pasien juga mempunyai hak-hak untuk mendapatkan kebutuhan yang diperlukan oleh pasien. Ada beberapa jenis hak yang dibutuhkan oleh seorang pasien yaitu Hak untuk memilih/kebebasan, Hak kesejahteraan, Hak legislatif.
B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian Tantangan Profesi Keperawatan dan Hak Pasien
2.      Klasifikasi Tantangan dalam Keperawatan
3.      Jenis – Jenis Hak Pasien
4.      Syarat yang Mempengaruhi Penentuan Hak-Hak Pasien
5.      Hak – Hak Pasien
 
C.    Tujuan
1.      Mengetahui pengertian tantangan profesi dan hak pasien
2.      Menjabarkan klasifikasi tantangan dalam keperawatan
1
3.      Menjelaskan jenis – jenis hak pasien
4.      Mengetahui syarat yang mempengaruhi hak – hak pasien
5.      Menjabarkan hak – hak pasien
 
 
D.    Pembatasan Masalah
Karena masalah mengenai tantangan hak – hak pasien sangat luas , maka kelompok kami hanya membahas tentang pengertian , klasifikasi, jenis – jenis, syarat – syarat, dan hak – hak pasien.
                                                                                      
 
 
 
 
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Tantangan Profesi Keperawatan dan Hak Pasien
 
Tantangan profesi keperawatan adalah profesi yang sudah mendapatkan pengakuan dari profesi lain, dituntut untuk mengembangkan dirinya untuk berpartisipasi aktif dalam sistem pelayanan kesehatan agar keberadaannya mendapat pengakuan dari masyarakat. Untuk mewujudkan pengakuan tersebut, maka perawat masih harus memperjuangkan langkah-langkah profesionalisme sesuai dengan keadaan dan lingkungan sosial.
Tantangan internal profesi keperawatan adalah meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga keperawatan sejalan dengan telah disepakatinya keperawatan sebagai suatu profesi pada lokakarya nasional keperawatan tahun 1983, sehingga keperawatan dituntut untuk memberikan pelayanan yang bersifat professional.
Tantangan eksternal profesi keperawatan adalah kesiapan profesi lain untuk menerima paradigma baru yang kita bawa.
Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan kebutuhan pribadinya sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas. Setiap manusia mempunyai hak asasi untuk berbuat, menyatakan pendapat, memberikan sesuatu kepada orang lain dan menerima sesuatu dari orang lain atau lembaga tertentu.
 
Hak-hak pasien dan perawat pada prinsipnya tidak terlepas pula dengan hak-hak manusia atau lebih dasar lagi hak asasi manusia. Hak asasi manusia tidak tanpa batas dan merupakan kewajiban setiap negara/pemerintah untuk menentukan batas-batas kemerdekaan yang dapat dilaksanakan dan dilindungi dengan mengutamakan kepentingan umum.
B.     Klasifikasi Tantangan dalam Keperawatan
 
Klasifikasi dari tantangan keliputan antara lain :
 
1. Terjadi pergeseran pola masyarakat Indonesia
a) Pergeseran pola masyarakat agrikultural ke masyarakat industri dan masyarakat tradisional berkembang menjadi masyarakat maju.
b) Pergeseran pola kesehatan yaitu adanya penyakit dengan kemiskinan seperti infeksi, penyakit yang disebabkan oleh kurang gizi dan pemukiman yang tidak sehat, adanya penyakit atau kelainan kesehatan akibat pola hidup modern.
c) Pergerakan umur harapan hidup juga mengakibatkan masalah kesehatan yang terkait dengan masyarakat lanjut usia seperti penyakit generatif.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Perkembangan IPTEK menuntut kemampuan spesifikasi dan penelitian bukan saja dapat memanfaatkan IPTEK, tetapi juga untuk menapis dan memastikan IPTEK sesuai dengan kebutuhan dan social budaya masyarakat Indonesia yang akan diadopsi. IPTEK juga berdampak pada biaya kesehatan yang makin tinggi dan pilihan tindakan
 
penanggulangan masalah kesehatan yang makin banyak dan kompleks selain itu dapat menurunkan jumlah hari rawat. Penurunan jumlah hari rawat mempengaruhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang lebih berfokus kepada kualitas bukan hanya kuantitas, serta meningkatkankebutuhan untuk pelayanan / asuhan keperawatan di rumah dengan mengikutsetakan klien dan keluarganya.
3. Globalisasi dalam pelayanan kesehatan
Globalisasi yang akan berpengaruh terhadp perkembangan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan ada 2 yaitu ;
a) Tersedianya alternatif pelayanan
b) persaingan penyelenggaraan pelayanan untuk menarik minat pemakai jasa pemakai kualitas untuk memberikan jasa pelayanan kesehatan yang terbaik.
4. Tuntutan profesi keperawatan
Keyakinan bahwa keperawatan merupakan profesi harus disertai dengan realisasi pemenuhan karakteristik keperawatan sebagai profesi yang disebut dengan professional.
 
C.    Jenis – Jenis Hak Pasien
1.Hak untuk memilih/kebebasan
Yaitu hak orang-orang untuk hidup sesuai dengan pilihannya dalam batas-batas yang telah ditentukan.
 
 
Contoh :
Seorang perawat wanita yang bekerja dirumah sakit dapat mempergunakan seragam yang diiginkan (haknya) asalkan berwarna putih bersih dan sopan sesuai dengan batas-batas. Batas-batas ini merupakan kebijakan RS dan suatu norma yang ditetapkan perawat.
2. Hak kesejahteraan
Yaitu hak-hak yang diberikan secara hukum untuk untuk hal-hal yang merupakan standar keselamatan spesifik dalam suatu bangunan atauwilayah tertentu.
Contoh :
Hak pasien untuk memperoleh asuhan keperawatan, hak penduduk memperoleh air bersih, dan lain-lain.
3. Hak legislatif
Yaitu hak yang diterapkan oleh hukum berdasarkan konsep keadilan.
Contoh :
Seorang wanita mempunyai hak legal untuk tidak diperlakukan semena-mena oleh suaminya.
Bandman dan Bandman (1986) menyatakan bahwa hak legislatif mempunyai 4 peranan
 
dimasyarakat yaitu membuat peraturan, mengubah peraturan, membatasi moral terhadap peraturan yang tidak adil, memberikan keputusan pengadilan atau menyelesaikan perselisihan.
D.    Syarat yang Mempengaruhi Penentuan Hak-Hak Pasien
1. Kebebasan untuk menggunakan hak yang dipilih oleh seseorang lain, orang yang bersangkutan tidak disalahkan atau dihukum karena menggunakan atau tidak menggunakan hak tersebut.
Contoh :
Pasien mempunyai hak untuk pengobatan yang ditetapkan oleh dokter, tapi dia mempunyai hak untuk menerima atau menolak pengobatan tersebut.
2. Seseorang mempunyai tugas untuk memberikan kemudahan bagi orang lain untuk menggunakan hak-haknya.
Contoh :
Perawat mempunyai tugas untuk meyakinkan dan melindungi hak paisen untuk mendapatkan pengobatan.
3. Hak harus sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan, yaitu persamaan, tidak memihak dan kejujuran.
 
Contoh :
Semua pasien mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan.
4.Hak untuk dapat dilaksanakan.
Contoh :
Dibeberapa Rs, para penentu kebijakan mempunyai tugas untuk memastikan bahwa pemberian hak-hak asasi manusia dilaksanakan untuk semua pasien.
5. Apabila hak seseorang bersifat membahayakan, maka hak tersebut dapat dikesampingkan atau ditolak dan orang tersebut akan diberi kompensasi atau pengganti.
Contoh :
Apabila nama pasien tertunda dari jadwal pembedahan dengan tidak disengaja, pasien dikompensasikan untuk ditempatkan bagian tertas dari daftar pembedahan berikutnya (bila terjadi kekeliruan )
 
E.     Hak – Hak Pasien
1.Hak memberikan consent (persetujuan)
Consent mengandung arti suatu tindakan atau aksi beralasan yang diberikan tanpa paksaan oleh seseorang yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang keputusan yang
 
ia berikan, dimana secara hukum orang tersebut secara hukum mampu memberikan
consent. Consent diterapkan pada prinsip bahwa setiap manusia dewasa mempunyai hak untuk menentukan apa yang harus dilakukan terhadapnya. Kriteria consent yang sah :
 
a. Tertulis
b.Ditandatangani oleh pasien atau orang yang bertanggung jawab terhadapnya
c.Hanya ada salah satu prosedur yang tepat dilakukan
d.Memenuhi beberapa elemen penting : penjelasan kondisi, prosedur dan konsekuensinya, penanganan atau prosedur alternative, manfaat yang diharapkan, Tawaran diberikan oleh pasien dewasa yang secara fisik dan mental mampu membuat keputusan
2. Hak untuk memilih mati
Keputusan tentang kematian dibuat berdasarkan standar medis oleh dokter, salah satu kriteria kematian adalah mati otak atau brain death. Hak untuk memilih mati sering bertolak belakang dengan hak untuk tetap mempertahankan hidup.
 
3. Hak perlindungan bagi orang yang tidak berdaya
Yang dimaksudkan dengan golongan orang yang tidak berdaya disini adalah orang dengan gangguan mental dan anak-anak dibawah umur serta remaja dimana secara hukum mereka tidak dapat membuat keputusan tentang nasibnya sendiri, serta golongan usia lanjut yang sudah mengalami gangguan pola berpikir maupun kelemahan fisik.
4. Hak pasien dalam penelitian
Penelitian sering dilakukan dengan melibatkan pasien. Setiap penelitian misalnya penggunaan obat atau cara penanganan baru yang melibakan pasien harus memperhatikan aspek hak pasien. Sebelum pasien terlibat, kepada mereka harus diberikan informasi secara jelas tentang percobaan yang dilakukan, bahaya yang timbul dan kebebasan pasien untuk menolak atau menerima untuk berpartisipasi. Apabila perawat berpartisipasi dalam penelitian yang melibatkan pasien, maka perawat harus yakin bahwa hak pasien tidak dilanggar baik secara etik maupun hukum. Untuk itu perawat harus memahami hak-hak pasien : membuat keputusan sendiri untuk berpartisipasi, mendapat informasi yang lengkap, menghentikan partisipasi tanpa sangsi, mendapat privasi, bebas dari bahaya atau resiko cidera, percakapan tentang sumber-sumber pribadi dan hak terhindar dari pelayanan orang yang tidak kompeten.
 
 
 
 
BAB III
PENUTUP
 
  1. Kesimpulan
Kesimpulannya bahwa Tantangan profesi keperawatan adalah suatu profesi yang sudah mendapatkan pengakuan dari profesi lain, dituntut untuk mengembangkan dirinya untuk berpartisipasi aktif dalam sistem pelayanan kesehatan agar keberadaannya mendapat pengakuan dari masyarakat. Hak-hak pasien dan perawat pada prinsipnya tidak terlepas pula dengan hak-hak manusia atau lebih dasar lagi hak asasi manusia. Hak asasi manusia tidak tanpa batas dan merupakan kewajiban setiap negara/pemerintah untuk menentukan batas-batas kemerdekaan yang dapat dilaksanakan dan dilindungi dengan mengutamakan kepentingan umum.
  1. Saran
Sarannya adalah untuk mewujudkan pengakuan tersebut, maka perawat masih harus memperjuangkan langkah-langkah profesionalisme sesuai dengan keadaan dan lingkungan sosial.
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 

http://stikeskabmalang.wordpress.com/2009/09/19/berbagai-tantangan-dalam-profesi-keperawatan/

Posted on by elvimonasari | Leave a comment

Anatomi Fisiologi Sistem Pendengaran dan Keseimbangan

Posted by elfa79 on September 13, 2008

1. AURIKEL = DAUN TELINGA

• Terdiri dari tulang rawan dan kulit

• Terdapat konkha, tragus, antitragus, helix, antihelix dan lobulus

• Fungsi utama aurikel adalah untuk menangkap gelombang suara dan mengarahkannya ke dalam MAE

2. MEATUS AUDITORIUS EKSTERNAL = LIANG TELINGA LUAR

• Panjang + 2, 5 cm, berbentuk huruf S

• 1/3 bagian luar terdiri dari tulang rawan, banyak terdapat kelenjar minyak dan kel. Serumen

• 2/3 bagian sisanya terdiri dari tulang ( temporal ) dan sedikit kelenjar serumen.

• Rambut halus dan serumen berfungsi untuk mencegah serangga kecil masuk.

• MAE ini juga berfungsi sebagai buffer terhadap perubahan kelembaban dan temperatur yang dapat mengganggu elastisitas membran tympani

3. MEMBRANA TYMPANI

• Terdiri dari jaringan fibrosa elastis

• Bentuk bundar dan cekung dari luar

• Terdapat bagian yang disebut pars flaksida, pars tensa dan umbo. Reflek cahaya ke arah kiri jam tujuh dan jam lima ke kanan

• Dibagi 4 kwadran ; atas depan, atas belakang, bawah depan dan bawah belakang

• Berfungsi menerima getaran suara dan meneruskannya pada tulang pendengaran

4. TULANG TULANG PENDENGARAN

• Terdiri dari Maleus, Incus dan Stapes

• Merupaka tulang terkecil pada tubuh manusia.

• Berfungsi menurunkan amplitudo getaran yang diterima dari membran tympani dan meneruskannya ke jendela oval

5. CAVUM TYMPANI

• Merupakan ruangan yang berhubungan dengan tulang Mastoid, sehingga bila terjadi infeksi pada telinga tengah dapat menjalar menjadi mastoiditis

6. TUBA EUSTACHIUS

• Bermula dari ruang tympani ke arah bawah sampai nasofaring

• Struktur mukosanya merupakan kelanjutan dari mukosa nasofaring

• Tuba dapat tertutup pada kondisi peningkatan tekanan secara mendadak.

• Tuba ini terbuka saat menelan dan bersin

• Berfungsi untuk menjaga keseimbangan tekanan udara di luar tubuh dengan di dalam telinga tengah

7. KOKLEA

• Skala vestibuli yang berhubungan dengan vestibular berisi perilymph.

• Skala tympani yang berakhir pada jendela bulat, berisi perilymph

• Skala media / duktus koklearis yang berisi endolymph

• Dasar skala vestibuli disebut membran basalis, dimana terdapat organ corti dan sel rambut sebagai organ pendengaran

8. KANALIS SEMISIRKULARIS

• Terdiri dari 3 duktus semiserkular, masing-masing berujung pada ampula.

• Pada ampula terdapat sel rambut, krista dan kupula

• Berkaitan dengan sistem keseimbangan tubuh dalam hal rotasi

9. VESTIBULA

• Terdiri dari sakulus dan utrikel yang mengandung makula

• Berkaitan dengan sistem keseimbangan tubuh dalam hal posisi.

MEKANISME PENDENGARAN

• Getaran suara ditangkap oleh aurikel yang diteruskan keliang telinga sehingga menggetarkan membran tympani.

• Getaran diteruskan ke tulang tulang pendengaran, stapes akhirnya menggerakkan foramen oval yang juga menggerakkan perilymph dalm skala vestibuli. Dilanjutkan melalui membran vestibuler yang mendorong endolymph dan membran basal ke arah bawah, perilymph dalam skala tympani akan bergerak sehingga mendorong foramen rotundum ke arah luar.

 

 

• Skala media yang menjadi cembung mendesak endolymph dan mendorong membran basal dan menggerakkan perilymph pada skala tympani.

Pada saat istirahat,ujung sel rambut berkelok kelok dan dengan berubahnya membran basal, ujung sel rambut menjadi lurus. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion kalium dan natrium menjadi aliran listrik yang diteruskan ke nervus VIII yang diteruskan ke lobus temporal untuk dianalisis

 

Posted on by elvimonasari | Leave a comment
BAB I
PENDAHULUAN
 
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini profesi perawat semakin marak.banyak yang membutuhkan tenaga perawat. Baik di Rumah sakit, balai pengobatan maupun di puskesmas. Untuk menjadi perawat yang profesional dibutuhkan keterampilan dari segi kemampuan komunikasi ataupun skill dalam merawat pasien. Agar tujuan bisa tercapai, perlu adanya komunikasi yang lancar antara pasien dengan perawat. Komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien disebut komunikasi secara terapeutik.
Tujuan dari komunikasi ini adalah membantu pasien untuk mengurangi beban perasaan dan pikiran serta mengurangi keraguan pada diri pasien. Agar pasien lebih terbuka sehingga proses penyembuhan dapat berjalan secara efektif.
Komunikasi juga dapat dilakukan oleh penderita buta dan tuli, dengan mengtahui tehnik komunikasi dapat mengtahui maksut dan tujuan seseorang yang mengalami gangguan pendengaran dan penglihtan.
 
1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Komunikasi?
2.      Bagaimana Teknik-Tehnik Komunikasi Pada Keadaan Khusus Buta dan Pendengaran?
3.      Apa saja hal-hal yang harus diperhatikan saat melakukan komunikasi?
 
 
1.3             Tujuan penulisan
Adapun Tujuan Penulisan Yaitu:
1.      Untuk mengetahui pengertian Komunikasi
2.      Untuk mengetahui Bagaimana teknik-Tehnik Komunikasi Pada Keadaan Khusus Buta dan Pendengaran
3.      Untuk mengetahui Apa saja hal-hal yang harus diperhatikan saat melakukan komunikasi
 
1.4             Manfaat Penulisan
1.      Kita dapat mengetahui pengertian Komunikasi
2.      Kita dapat mengetahui Bagaimana teknik-Tehnik Komunikasi Pada Keadaan Khusus Buta dan Pendengaran
3.      Kita dapat mengetahui Apa saja hal-hal yang harus diperhatikan saat melakukan komunikasi
 
 
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
 
2.1 Pengertian Komunikasi
Menurut Depkes RI tahun 2001 komunikasi adalah suatu proses menyampaikan pesan yang dilakukan oleh seseorang kepada pihak lain yang bertujuan untuk menciptakan persamaan pikiran antara pengirim dan penerima pesan.Menurut Dale Yoder dkk,kata communications berasal dari sumber yang sama seperti kata common yang berarti bersama,bersama-sama dalam membagi ide.
Berdasarkan tempatnya komunikasi bisa terjadi dimana saja.Baik dalam kehidupan sehari-hari (komunikasi informal) hingga komunikasi yang bersifat resmi (komunikasi formal).Dunia kesehatan juga tidak lepas dari komunikasi.Komunikasi di dunia kesehatan bisa terjadi sesama rekan kerja,perawat dengan klien maupun sebaliknya.
Komunikasi yang terjadi di dunia kesehatan sering juga disebut dengan komunikasi secara terapeutik.Komunikasi terapeutik sendiri maksudnya adalah komunikasi yang dilakukan secara sadar,bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien.
Dalam melakukan komunikasi tiap pasien mempunyai tingkat kesulitan masing-masing.Contohnya pada pasien dengan gangguan kebutaan tentu saja akan berbeda jika dibandingkan dengan pasien biasa.dibutuhkan teknik khusus untuk membangun kepercayaan antara pasien dengan perawat.
 
2.2 Tehnik Komunikasi Pada Keadaan Khusus Buta
A.      Klien dengan Gangguan Penglihatan
Gangguan penglihatan dapat terjadi baik karena kerusakan organ, misal., kornea, lensa mata, kekeruhan humor viterius, maupun kerusakan kornea, serta kerusakan saraf penghantar impuls menuju otak. Kerusakan di tingkat persepsi  antara lain dialami klien dengan kerusakan otak. Semua ini mengakibatkan penurunan visus hingga dapat menyebabkan kebutaan, baik parsial maupun total. Akibat kerusakan visual, kemampuan menangkap rangsang ketika berkomunikasi sangat bergantung pada pendengaran dan sentuhan.
Oleh karena itu, komunikasi yang dilakukan harus mengoptimalkan fungsi pendengaran dan sentuhan karena fungsi penglihatan sedapat mungkin harus digantikan oleh informasi yang dapat ditransfer melalui indra yang lain.
B.      Teknik Komunikasi
Berikut adalah teknik-teknik yang diperhatikan selama berkomunikasi dengan klien yang mengalami gangguan penglihatan:
  1. Sedapat mungkin ambil posisi yang dapat dilihat klien bila ia mengalami kebutaan parsial atau sampaikan secara verbal keberadaan / kehadiran perawat ketika anda berada didekatnya
  2. Identifikasi diri anda dengan menyebutkan nama  (dan peran) anda
  3. Berbicara menggunakan nada suara normal karena kondisi klien tidak memungkinkanya menerima pesan verbal secara visual. Nada suara anda memegang peranan besar dan bermakna bagi klien
  4. Terangkan alasan anda menyentuh atau mengucapkan kata – kata sebelum melakukan sentuhan pada klien
  5. Informasikan kepada klien ketika anda akan meninggalkanya / memutus komunikasi
  6. Orientasikan klien dengan suara – suara yang terdengar disekitarnya
  7. Orientasikan klien pada lingkunganya bila klien dipindah ke lingkungan / ruangan yang baru.
 
v  Macam-Macam Penyakit Mata
v  Hambatan Komunikasi Pada Klien Yang Buta
  • Buta warna : Orang yang menderita buta warna tidak mampu membedakan warna dengan baik. Bagi seorang penderita buta warna, yang nampak hanya warna hitam, putih , abu abu. Buta warna pada umumnya merupakan penyakit keturunan.
  • Rabun jauh : Orang yang menderita rabun jauh dapat melihat dengan baik  benda benda yang jaraknya jauh, tetapi tidak dapat melihat dengan baik benda benda yang jaraknya dekat. Penderita rabun jauh dapat ditolong  dengan mempergunakan kacamata dengan lensa cembung.
  • Rabun dekat : Orang yang menderita rabun dekat, dapat melihat dengan baik benda benda yang jaraknya dekat, tetapi tidak dapat melihat dengan baik benda benda yang jaraknya jauh. Penderita rabun dekat, dapat ditolong  dengan mempergunakan kacamata dengan lensa cekung. Perlu diingat, kebiasaan membaca terlalu dekat pada anak anak dapat mempercepat terjadinya penyakit rabun dekat.
  • Rabun senja (Xeroptalmia) : Orang yang menderita rabun senja, tidak dapat melihat dengan jelas mulai pada waktu senja. Penderita rabun senja banyak menimpa anak anak balita. Pada era tahun 1960 -1970 banyak anak anak yang menderita rabun senja. penyebabnya karena kekurangan vitamin A .
  • Astigmatis : Orang yang menderita astigmatis, tidak dapat melihat benda dengan jelas. Semua benda yang dilihat akan nampak kabur seperti photo yang tidak tepat fokusnya.  Penyakit ini disebabkan  oleh kelainan/kerusakan dari kornea.
  • Juling : Orang yang menderita penyakit ini mudah dikenal, karena biasanya penderita sulit mengarahkan kedua biji matanya kesatu arah.
  • Retinopatia diabetes : Tajam penglihatan perlahan-lahan menurun. Pada retina terlihat eksudat berwarna kekuning-kuningan yang memperlihatkan tanda-tanda akan bergabung menjadi satu yang besar-besar dan irregular.
  • Katarak : Penglihatan kabur/tidak jelas.
·         Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Definisi Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbataan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran. Oleh karena itu prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaan tulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan media yang bersuara adalah tape recorder dan peranti lunak JAWS. Untuk membantu tunanetra beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantaranya mempelajari bagaimana tunanetra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakan tongkat putih (tongkat khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium).
 
–   Kesulitan melakukan komunikasi secara visual dengan bahasa tubuh.
–   Klien kesulitan menangkap atau memahami informasi dalam bahasa visual.
– Klien tidak dapat melihat  dan mengetahui tindakan apasaja yang dilakukan padanya, dan  klien hanya dapat merasakannya saja.
C. Syarat-Syarat Komunikasi Pada Klien Dengan Gangguan Penglihatan
Dalam melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien dengan gangguan sensori penglihatan, perawat dituntut untuk menjadi komunikator yang baik sehingga terjalin hubungan terapeutik yang efektif antara perawat dan klien, untuk itu syarat yang harus dimiliki oleh perawat dalam berkomunikasi dengan pasien dengan gangguan sensori penglihatan adalah :
  1. Adanya kesiapan artinya pesan atau informasi, cara penyampaian, dan saluarannya harus dipersiapkan terlebih dahulu secara matang.
  2. Kesungguhan artinya apapun ujud dari pesan atau informasi tersebut tetap harus disampaikan secara sungguh-sungguh atau serius.
  3. Ketulusan artinya sebelum individu memberikan informasi atau pesan kepada indiviu lain pemberi informasi harus merasa yakin bahwa apa yang disampaikan itu merupakan sesuatu yang baik dan memang perlu serta berguna untuk sipasien.
  4. Kepercayaan diri artinya jika perawat mempunyai kepercayaan diri maka hal ini akan sangat berpengaruh pada cara penyampaiannya kepada pasien.
  5. Ketenangan artinya sebaik apapun dan sejelek apapun yang akan disampaikan, perawat harus bersifat tenang, tidak emosi maupun memancing emosi pasien, karena dengan adanya ketenangan maka iinformasi akan lebih jelas baik dan lancar.
  6. Keramahan artinya bahwa keramahan ini merupakan kunci sukses dari kegiatan komunikasi, karena dengan keramahan yang tulus tanpa dibuat-buat akan menimbulkan perasaan tenang, senang dan aman bagi penerima.
  7. Kesederhanaan artinya di dalam penyampaian informasi, sebaiknya dibuat sederhana baik bahasa, pengungkapan dan penyampaiannya. Meskipun informasi itu panjang dan rumit akan tetapi kalau diberikan secara sederhana, berurutan dan jelas maka akan memberikan kejelasan informasi dengan baik.
 
2.3 Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Komunikasi Pada Klien Gangguan Penglihatan
Agar komunikasi dengan orang dengan gangguan sensori penglihatan dapat berjalan lancar dan mencapai sasarannya, maka perlu juga diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  1. Dalam berkomunikasi pertimbangkan isi dan nada suara
  2. Periksa lingkungan fisik
  3. Perlu adanya ide yang jelas sebelum berkomunikasi
  4. Komunikasikan pesan secara singkat
  5. Komunikasikan hal-hal yang berharga saja.
  6. Dalam merencanakan komunikas, berknsultasilah dengan pihk lain agar ­memperoleh dukungan.
A. Tehnik komunikasi terapeutik.
Tiap klien tidak sama oleh karena itu diperlukan penerapan tehnik berkomunikasi yang berbeda pula, diantaranya adalah :
  1. Mendengarkan dengan penuh perhatian
Berusaha mendengarkan klien menyampaikan pesan non-verbal bahwa perawat perhatian terhadap kebutuhan dan masalah klien. Mendengarkan dengan penuh perhatian merupakan upaya untuk mengerti seluruh pesan verbal dan non-verbal yang sedang dikomunikasikan. Ketrampilan mendengarkan sepenuh perhatian adalah dengan:
  • Pandang klien ketika sedang bicara
  • Pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk mendengarkan
  • Sikap tubuh yang menunjukkan perhatian dengan tidak menyilangkan kaki atau tangan
  • Hindarkan gerakan yang tidak perlu
  • Anggukan kepala jika klien membicarakan hal penting atau memerlukan umpan balik
  • Condongkan tubuh ke arah lawan bicara.
  1. Menunjukkan penerimaan
Menerima tidak berarti menyetujui. Menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau tidak setuju. Berikut ini menunjukkan sikap perawat yang menerima :
  • Mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan
  • Memberikan umpan balik verbal yang menapakkan pengertian
  • Memastikan bahwa isyarat non-verbal cocok dengan komunikasi verbal
  • Menghindarkan untuk berdebat, mengekspresikan keraguan, atau mencoba untuk mengubah pikiran klien.
  1. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan
Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai klien. Paling baik jika pertanyaan dikaitkan dengan topik yang dibicarakan dan gunakan kata-kata dalam konteks sosial budaya klien. Selama pengkajian ajukan pertanyaan secara berurutan.
  1. Mengulang ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri.
Dengan mengulang kembali ucapan klien, perawat memberikan umpan balik sehingga klien mengetahui bahwa pesannya dimengerti dan mengharapkan komunikasi berlanjut.
  1. Klarifikasi
Apabila terjadi kesalah pahaman, perawat perlu menghentikan pembicaraan untuk mengklarifikasi dengan menyamakan pengertian, karena informasi sangat penting dalam memberikan pelayanan keperawatan. Agar pesan dapat sampai dengan benar, perawat perlu memberikan contoh yang konkrit dan mudah dimengerti klien.
  1. Memfokuskan
Metode ini dilakukan dengan tujuan membatasi bahan pembicaraan sehingga lebih spesifik dan dimengerti. Perawat tidak seharusnya memutus pembicaraan klien ketika menyampaikan masalah yang penting, kecuali jika pembicaraan berlanjut tanpa informasi yang baru.
  1. Menawarkan informasi
Tambahan informasi ini memungkinkan penghayatan yang lebih baik bagi klien terhadap keadaanya. Memberikan tambahan informasi merupakan pendidikan kesehatan bagi klien. Selain ini akan menambah rasa percaya klien terhadap perawat. Apabila ada informasi yang ditutupi oleh dokter, perawat perlu mengklarifikasi alasannya. Perawat tidak boleh memberikan nasehat kepada klien ketika memberikan informasi, tetapi memfasilitasi klien untuk membuat keputusan.
  1. Diam
Diam memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisir pikirannya. Penggunaan metode diam memrlukan ketrampilan dan ketetapan waktu, jika tidak maka akan menimbulkan perasaan tidak enak. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi terhadap dirinya sendiri, mengorganisir pikirannya, dan memproses informasi. Diam terutama berguna pada saat klien harus mengambil keputusan .
  1. Meringkas
Meringkas adalah pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat. Metode ini bermanfaat untuk membantu topik yang telah dibahas sebelum meneruskan pada pembicaraan berikutnya. Meringkas pembicaraan membantu perawat mengulang aspek penting dalam interaksinya, sehingga dapat melanjutkan pembicaraan dengan topik yang berkaitan.
  1.   Memberikan penghargaan
Memberi salam pada klien dengan menyebut namanya, menunjukkan kesadaran tentang perubahan yang terjadi menghargai klien sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai hak dan tanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai individu.
  1.   Menawarkan diri
Klien mungkin belum siap untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain atau klien tidak mampu untuk membuat dirinya dimengerti. Seringkali perawat hanya menawarkan kehadirannya, rasa tertarik, tehnik komunikasi ini harus dilakukan tanpa pamrih.
  1.  Menganjurkan klien unutk menguraikan persepsinya
Apabila perawat ingin mengerti klien, maka ia harus melihat segala sesungguhnya dari perspektif klien. Klien harus merasa bebas untuk menguraikan persepsinya kepada perawat. Ketika menceritakan pengalamannya, perawat harus waspada akan timbulnya gejala ansietas.
v  Aplikasi Komunikasi Pada Klien Dengan Gangguan Penglihatan
Pada suatu siang di sebuah rumah sakit di Surakarta,di suatu bangsal bernama Bangsal Melati terdapat seorang pasien dengan nama saudara S.Pasien mengalami kebutaan sejak lahir.Beberapa hari yang lalu pasien mengalami kecelakaan lalu dilakukan operaasi di ekstremitas bawah tepatnya di fibula.Lalu perawaat akan melakukan tindakan memberikan obat pada Saudara S.
Di ruang perawat bangsal melati.
Senior                   : “Dik,tolong pasien nomor bed 5 kamar 1 diberi obat,ini               sudah  jamnya minum obat.”( Memegang bahu perawat )
Perawat                :” Iya mbak.”
Perawat mengambil peralatan lalu berjalan menumu ruang pasien.Tiba di ruang pasienn terdapat pasien serta keluarga pasien.
Perawat                : “Selamat siang pak,bu”
Keluarga               : “Selamat siang mbak”.
Perawat                : “Ini sudah waktunya dek S minum obat.”
Keluarga II           : “Oh ya mbak, silakan…”
Perawat                : Selamat siang dik S. (Menyentuh bahu pasien)
Pasien                   : Siang.. Siapa ya? (mengerutkan kening)
Perawat                : Saya Purwanti,masih inget nggak? Ini mbak yang kemarin membantu adik minum obat.
Pasien                   : Oh ya mbak saya ingat,
Perawat                : Gimana dik kabarnya hari ini?
Pasien                   : Umm,baik mbak
Perawat                : Gimana tidurnya semalam?
Pasien                  : Semalam tidurnya kurang nyenyak mbak,kakiku gatel, rasanya cenat-cenut.
Perawat                : Oh,kalau gatel itu biasanya udah mau sembuh,dik
Jangan digaruk ya?
Pasien                   : iya mbak,
Perawat                : Mbak disini mau membantu adik untuk minum obat.
Pasien                   : Obat apa mbak? Untuk apa?
Perawat                : Ini obat untuk mempercepat penyembuhan luka pada kaki           adik. Biar bisa masuk sekolah lagi. Gimana dik, mau dibantu sama mbak?
Pasien                   : Iya mbak mau…
Perawat                : Sekarang adik bangun dulu ya? (sambil membantu pasien bangun). Nah ini diminum, airnya yang banyak biar obatnya cepet larut.
Setelah selesai melakukan tahap kerja, perawat melakukan evaluasi untuk mengetahui hasil tindakan yang dilakukan, apakah sudah mencapai tujuan.
Perawat                : Gimana dik habis minum obat?
Pasien                   : Pait mbak, nggak enyakkk…
Perawat                : Oh iya dik gak papa,
Kalau adik mau minum obat lagi, mbak nanti kesini lagi. Atau kalau ada apa-apa adik bisa panggil mbak di ruang keperawatan.
Pasien                   : Ya mbak.
Perawat                : Bapak,ibu.. saya permisi kembali ke ruang keperawatan
Selamat siang.
Keluarga               : Ya sus,terima kasih. Selamat siang
Setelah selesai melakukan semua tindakan termasuk evaluasi, perawat melakukan tindakan pendokumentasian.
 
2.4 Tehnik Komunikasi pada Keadaan Khusus Pendengaran
1.      Pada Klien dengan Gangguan Sensoris Pendengaran
Pada klien dengan gangguan pendengaran, media komunikasi yang paling sering digunakan ialah media visual. Klien menangkap pesan bukan dari suara yang dikeluarkan orang lain, tetapi dengan mempelajari gerak bibir lawan bicaranya. Kondisi visual menjadi sangat penting bagi klien ini sehingga dalam melakukan komunikasi, upayakan supaya sikap dan gerakan anda dapat ditangkap oleh indra visualnya.
Teknik Komunikasi
Berikut adalah teknik-teknik komunikasi yang dapat digunakan klien dengan gangguan pendengaran:
  1. Orientasiakan kehadiran anda dengan cara menyentuh klien atau memposisikan diri di depan klien
  2. Gunakan bahasa yang sederhana dan bicaralah dengan perlahan untuk memudahkan klien membaca gerak bibir anda
  3. Usahakan berbicara dengan posisi tepat didepan klien dan pertahankan sikap tubuh dan mimik wajah yang lazim
  4.  Jangan melakukan pembicaraan ketika anda sedang mengunyah sesuatu (permen karet)
  5. Bila mungkin gunakan bahasa pantomim dengan gerakan sederhana dan wajar
  6. Gunakan bahasa isyarat atau bahasa jari bila anda bisa dan diperlukan
  7. Apabila ada sesuatu yang sulit untuk dikomunikasikan, cobalah sampaikan pesan dalam bentuk tulisan atau gambar (simbol).
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah:
  1. Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB),
  2. Gangguan pendengaran ringan(41-55dB),
  3. Gangguan pendengaran sedang(56-70dB),
  4. Gangguan pendengaran berat(71-90dB),
  5. Gangguan pendengaran ekstrem/tuli(di atas 91dB).
Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.
 
BAB III
PENUTUP
 
A. Kesimpulan
Komunikasi pada klien dengan gangguan penglihatan adalah komunikasi yang dilakukan secara verbal maupun nonverbal. Dalam berkomunikasi dengan klien yang mengalami gangguan penglihatan seorang perawat harus mempelajari dan memahami teknik komunikasi yang dapat digunakan. Sedangkan Pada klien dengan gangguan pendengaran, media komunikasi yang paling sering digunakan ialah media visual. Klien menangkap pesan bukan dari suara yang dikeluarkan orang lain, tetapi dengan mempelajari gerak bibir lawan bicaranya. Kondisi visual menjadi sangat penting bagi klien ini sehingga dalam melakukan komunikasi, upayakan supaya sikap dan gerakan anda dapat ditangkap oleh indra visualnya.
Dengan demikian komunikasi akan terjadi dengan baik dan pesien akan merasa puas, tidak ada keluhan tentang pelayanan, dan memberikan persahabatan serta penyembuhan lebih cepat, disamping itu tenaga medis dan paramedis akan merasa puas karena dapat memberikan pelayanan yang baik dan penyembuhan.
 
C.  Saran
Perawat harus bisa menghadapi klien dengan gangguan penglihatan agar terjadi hubungan terapeutik dengan klien. Walaupun pasien tidak dapat melihat, perawat harus merawat klien dengan baik dan perawat tidak boleh menyepelekan klien tersebut dan mendahulukan kebutuhan klien lain yang tidak mengalami gangguan persepsi sensori, khususnya gangguan penglihatan.
Posted on by elvimonasari | Leave a comment

Asuhan Keperawatan TRAUMA DADA

A. Pengertian

Trauma dada adalah suatu trauma yang terjadi pada dada yang dibagi menjadi dua (2) yaitu, trauma tumpul dan trauma tusuk yang kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor (80%), terjatuh, pukulan dada dan kecelakaan pada bidang industri.

B. Faktor Predisposing/ Etiologi

1. Mekanisme kecelakaan

a. Kecelakaan kendaraan bermotor

b. Tertembak pada daerah dada

c. Tertusuk pada daerah dada

2. Penyakit yang mendahului

a. Asma

b. Tuberkulosis

c. Bronkhitis

d. Pneumonia

C. Patofisiologi

Trauma dada (baik tumpul/tusuk) sering terjadi karena kecelakaan/ penyakit yang sebelumnya ada seperti tertabrak mobil, motor, terjatuh, tertusuk/ tertembak dapat mengakibatkan salah satu/ lebih mekanisme patologi berikut ini.

1. Hipoxia akibat gangguan jalan nafas, cedera/ parenkim paru, sangkur iga dan otot pernafasan, kolaps paru serta pneumotorax.

2. Hiporakmia akibat kehilangan cairan masif dari pembuluh besar, ruptur jantung atau hemotorax.

3. Gagal jantung akibat temponade jantung, kontusio jantung atau tekanan intratoraks yang meningkat.

Mekanisme di atas seringkali mengakibatkan kerusakan ventilasi dan perfusi yang mengarah pada gagal nafas akut, syok hiporalemik dan kematian.

D. Tanda dan Gejala

1. Luka pada dada

2. Sianosis

3. Perdarahan pada dada

4. Sesak nafas

5. Nyeri pada dada

E. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan Fisik

a. Inspeksi

· TTV

· Thoraks

· Jalan nafas

· Warna kulit untuk tanda syok

b. Palpasi

· Thoraks: Palpasi terhadap nyeri tekan, krepitus, dan posisi trakea.

c. Auskultasi

· Bunyi nafas

· Bunyi jantung

2. Pemeriksaan Diagnostik

– Rontgen dada – EKG

– CT Scan – Sanitasi clip_image002

– HSD – Osmolaritas

– Pemeriksaan pembekuan – Elektrolisis

– Gas darah arteri – Urinalisis

F. Penatalaksanaan Medis

1. Cedera kecil

· Fraktur sternum clip_image004 hilangkan kontusio jantung

· Fraktur skapula clip_image004[1] nyeri biasa, pulang ke rumah

· Fraktur tusuk

– Tunggal/ single clip_image004[2] aman, pulang ke rumah

– Banyak/ multiple clip_image004[3] dikirim ke RS karena bisa mengganggu jalan nafas.

2. Cidera besar

– Airway clip_image004[4] jalan nafas – Cairan Intravena

– Brething clip_image004[5] pernafasan – Kateter folley

– Circulation clip_image004[6] sirkulasi – Monitoring EKG

– Oksigen – Jalur EVD

BAB II

PROSES KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Kapan terjadi

Pada trauma dada lamanya saat mendapat trauma sampai masuk ke pelayanan kesehatan saat penting dalam penanganan juga penyembuhan.

2. Mekanisme cedera

Dengan benda tajam atau tumpul.

3. Apakah pasien responsif

4. Perkiraan kehilangan darah

Darah yang keluar banyak atau sedikit.

5. Penggunaan obat/ alkohol

6. Tindakan pretros petalisasi.

B. Diagnosa Keperawatan Perencanaan

No

Diagnosa keperawatan

Rencana

Paraf

Tujuan

Tindakan

1

Perubahan rasa nyaman (nyeri)

Bd pasca operasi ditandai dengan

DS : Klien mengatakan nyeri

DO: Klien mengerang kesakitan dan bedrest

Setelah dilaksanakan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan rasa nyaman terpenuhi dengan kriteria:

· Nyeri berkurang

· Klien mampu melaksanakan aktivitas tanpa bantuan.

· Observasi keadaan umum klien

· Atur posisi senyaman mungkin.

· Anjurkan teknik relaksasi

· Ciptakan lingkungan yang nyaman.

2

Gangguan pola nafas bd penekanan pada thoraks ditandai dengan:

Setelah dilaksanakan tindakan

· Observasi keadaan umum dan TTV klien

No

Diagnosa keperawatan

Rencana

Paraf

Tujuan

Tindakan

DS : Klien mengatakan sesak nafas

DO: RR 32 x/ menit Dypsnea

keperawatan selama 2 x 24 jam dengan kriteria:

· Klien tidak sesak nafas

· TTV normal

· Atur posisi semi fowler

· Ajarkanteknik relaksasi

3

Penurunan kesadaran bd perdarahan yang banyak ditandai dengan:

DS : Klien tidak sadar

DO: Perdarahan yang terus menerus

Klien tampak pucat

TD < N

Setelah dilaksanakan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan kesadaran klien membaik dengan kriteria:

· TD normal

· Perdarahan dapat dihentikan

· Observasi keadaan umum dan TTV klien

· Lakukan penghentian perdarahan dan pembalutan

Related Post:

Posted on by elvimonasari | Leave a comment

A. Organ-Organ Pencernaan
Proses pencernaan merupakan suatu proses yang melibatkan
organ-organ pencernaan dan kelenjar-kelenjar pencernaan. Antara
proses dan organ-organ serta kelenjarnya merupakan kesatuan
sistem pencernaan. Sistem pencernaan berfungsi memecah bahan-
bahan makanan menjadi sari-sari makanan yang siap diserap dalam
tubuh.

Berdasarkan prosesnya, pencernaan makanan dapat dibedakan
menjadi dua macam seperti berikut.
1. Proses mekanis, yaitu pengunyahan oleh gigi dengan dibantu
lidah serta peremasan yang terjadi di lambung.
2. Proses kimiawi, yaitu pelarutan dan pemecahan makanan oleh
enzim-enzim pencernaan dengan mengubah makanan yang ber-
molekul besar menjadi molekul yang berukuran kecil.

Makanan mengalami proses pencernaan sejak makanan berada
di dalam mulut hingga proses pengeluaran sisa-sisa makanan hasil
pencernaan. Adapun proses pencernaan makanan meliputi hal-hal
berikut.
1. Ingesti: pemasukan makanan ke dalam tubuh melalui mulut.
2. Mastikasi: proses mengunyah makanan oleh gigi.
3. Deglutisi: proses menelan makanan di kerongkongan.
4. Digesti: pengubahan makanan menjadi molekul yang lebih
sederhana dengan bantuan enzim, terdapat di lambung.
5. Absorpsi: proses penyerapan, terjadi di usus halus.
6. Defekasi: pengeluaran sisa makanan yang sudah tidak berguna
untuk tubuh melalui anus.
Saat melakukan proses-proses pencernaan tersebut diperlukan
serangkaian alat-alat pencernaan sebagai berikut.

1. Mulut
Makanan pertama kali masuk ke dalam tubuh melalui mulut.
Makanan ini mulai dicerna secara mekanis dan kimiawi. Di dalam
mulut seperti Gambar 6.1, terdapat beberapa alat yang berperan
dalam proses pencernaan yaitu gigi, lidah, dan kelenjar ludah
(glandula salivales).

a. Gigi
Pada manusia, gigi berfungsi sebagai alat pencernaan
mekanis. Di sini, gigi membantu memecah makanan menjadi
potongan-potongan yang lebih kecil. Hal ini akan membantu
enzim-enzim pencernaan agar dapat mencerna makanan
lebih efisien dan cepat. Selama pertumbuhan dan per-
kembangan, gigi manusia mengalami perubahan, mulai dari
gigi susu dan gigi tetap (permanen). Gigi pertama pada bayi
dimulai saat usia 6 bulan. Gigi pertama ini disebut gigi susu
(dens lakteus). Pada anak berusia 6
tahun, gigi berjumlah 20, dengan susunan sebagai berikut.
1) Gigi seri (dens insisivus), berjumlah 8 buah, berfungsi
memotong makanan.
2) Gigi taring (dens caninus), berjumlah 4 buah, berfungsi
merobek makanan.
3) Gigi geraham kecil (dens premolare), berjumlah 8 buah,
berfungsi mengunyah makanan.

Struktur luar gigi terdiri
atas bagian-bagian berikut.
1) Mahkota gigi (corona) merupakan bagian yang tampak
dari luar.
2) Akar gigi (radix) merupakan bagian gigi yang tertanam
di dalam rahang.
3) Leher gigi (colum) merupakan bagian yang terlindung
oleh gusi.

Adapun penampang gigi dapat diperlihatkan bagian-
bagiannya sebagai berikut.
1) Email (glazur atau enamel) merupakan bagian terluar
gigi. Email merupakan struktur terkeras dari tubuh,
mengandung 97% kalsium dan 3% bahan organik.
2) Tulang gigi (dentin), berada di sebelah dalam email,
tersusun atas zat dentin.
3) Sumsum gigi (pulpa), merupakan bagian yang paling
dalam. Di pulpa terdapat kapiler, arteri, vena, dan saraf.
4) Semen merupakan pelapis bagian dentin yang masuk
ke rahang.

b. Lidah
Lidah dalam sistem pencernaan berfungsi untuk mem-
bantu mencampur dan menelan makanan, mempertahankan
makanan agar berada di antara gigi-gigi atas dan bawah
saat makanan dikunyah serta sebagai alat perasa makanan.
Lidah dapat berfungsi sebagai alat perasa makanan karena
mengandung banyak reseptor pengecap atau perasa. Lidah
tersusun atas otot lurik dan permukaannya dilapisi dengan
lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir
(mukosa).

c. Kelenjar ludah
Terdapat tiga pasang kelenjar ludah di dalam rongga mulut,
yaitu glandula parotis, glandula submaksilaris, dan glandula
sublingualis atau glandula submandibularis. Amati gambar 6.4
agar Anda mengenali letak ketiga kelenjar ludah tersebut.

Air ludah berperan penting dalam proses perubahan zat
makanan secara kimiawi yang terjadi di dalam mulut. Setelah
makanan dilumatkan secara mekanis oleh gigi, air ludah ber-
peran secara kimiawi dalam proses membasahi dan mem-
buat makanan menjadi lembek agar mudah ditelan. Ludah
terdiri atas air (99%) dan enzim amilase. Enzim ini meng-
uraikan pati dalam makanan menjadi gula sederhana
(glukosa dan maltosa). Makanan yang telah dilumatkan
dengan dikunyah dan dilunakkan di dalam mulut oleh air liur
disebut bolus. Bolus ini diteruskan ke sistem pencernaan
selanjutnya.

2. Kerongkongan (Esofagus)
Kerongkongan merupakan saluran panjang (± 25 cm) yang
tipis sebagai jalan bolus dari mulut menuju ke lambung. Fungsi
kerongkongan ini sebagai jalan bolus dari mulut menuju lambung.
Bagian dalam kerongkongan senantiasa basah oleh cairan
yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar yang terdapat pada dinding
kerongkongan untuk menjaga agar bolus menjadi basah dan licin.
Keadaan ini akan mempermudah bolus bergerak melalui
kerongkongan menuju ke lambung. Bergeraknya bolus dari mulut

ke lambung melalui kerongkongan disebabkan adanya gerak
peristaltik pada otot dinding kerongkongan.
Gerak peristaltik dapat terjadi karena adanya kontraksi otot
secara bergantian pada lapisan otot yang tersusun secara me-
manjang dan melingkar. Proses gerak bolus di dalam kerongkongan
menuju lambung

Sebelum seseorang mulai makan, bagian belakang mulut (atas)
terbuka sebagai jalannya udara dari hidung. Di kerongkongan,
epiglotis yang seperti gelambir mengendur sehingga udara masuk
ke paru-paru. Ketika makan, makanan dikunyah dan ditelan masuk
ke dalam kerongkongan. Sewaktu makanan bergerak menuju
kerongkongan, langit-langit lunak beserta jaringan mirip gelambir
di bagian belakang mulut (uvula) terangkat ke atas dan menutup
saluran hidung. Sementara itu, sewaktu makanan bergerak ke arah
tutup trakea, epiglotis akan menutup sehingga makanan tidak masuk
trakea dan paru-paru tetapi makanan tetap masuk ke kerongkongan.

3. Lambung
Lambung merupakan saluran pencernaan yang berbentuk
seperti kantung, terletak di bawah sekat rongga badan. Dengan
mengamati Gambar 6.5, Anda dapat mengetahui bahwa lambung
terdiri atas tiga bagian sebagai berikut.
a. Bagian atas disebut kardiak, merupakan bagian yang ber-
batasan dengan esofagus.
b. Bagian tengah disebut fundus, merupakan bagian badan
atau tengah lambung.
c. Bagian bawah disebut pilorus, yang berbatasan dengan
usus halus.
Daerah perbatasan antara lambung dan kerongkongan ter-
dapat otot sfinkter kardiak yang secara refleks akan terbuka bila
ada bolus masuk. Sementara itu, di bagian pilorus terdapat otot

yang disebut sfinkter pilorus. Otot-otot lambung ini dapat ber-
kontraksi seperti halnya otot-otot kerongkongan. Apabila otot-
otot ini berkontraksi, otot-otot tersebut menekan, meremas, dan
mencampur bolus-bolus tersebut menjadi kimus (chyme).

Sementara itu, pencernaan secara kimiawi dibantu oleh
getah lambung. Getah ini dihasilkan oleh kelenjar yang terletak
pada dinding lambung di bawah fundus, sedangkan bagian dalam
dinding lambung menghasilkan lendir yang berfungsi melindungi
dinding lambung dari abrasi asam lambung, dan dapat beregenerasi
bila cidera. Getah lambung ini dapat dihasilkan akibat rangsangan
bolus saat masuk ke lambung. Getah lambung mengandung
bermacam-macam zat kimia, yang sebagian besar terdiri atas
air. Getah lambung juga mengandung HCl/asam lambung dan
enzim-enzim pencernaan seperti renin, pepsinogen, dan lipase.

Asam lambung memiliki beberapa fungsi berikut.
a. Mengaktifkan beberapa enzim yang terdapat dalam getah
lambung, misalnya pepsinogen diubah menjadi pepsin. Enzim
ini aktif memecah protein dalam bolus menjadi proteosa dan
pepton yang mempunyai ukuran molekul lebih kecil.
b. Menetralkan sifat alkali bolus yang datang dari rongga mulut.
c. Mengubah kelarutan garam mineral.
d. Mengasamkan lambung (pH turun 1–3), sehingga dapat
membunuh kuman yang ikut masuk ke lambung bersama
bolus.
e. Mengatur membuka dan menutupnya katup antara lambung
dan usus dua belas jari.
f. Merangsang sekresi getah usus.

Enzim renin dalam getah lambung berfungsi mengendapkan
kasein atau protein susu dari air susu. Lambung dalam suasana
asam dapat merangsang pepsinogen menjadi pepsin. Pepsin
ini berfungsi memecah molekul-molekul protein menjadi molekul-
molekul peptida. Sementara itu, lipase berfungsi mengubah
lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
Selanjutnya, kimus akan masuk ke usus halus melalui suatu
sfinkter pilorus yang berukuran kecil. Apabila otot-otot ini
berkontraksi, maka kimus didorong masuk ke usus halus sedikit
demi sedikit.

4. Usus halus
Usus halus merupakan saluran berkelok-kelok yang
panjangnya sekitar 6–8 meter, lebar 25 mm dengan banyak
lipatan yang disebut vili atau jonjot-jonjot usus. Vili ini berfungsi
memperluas permukaan usus halus yang berpengaruh terhadap
proses penyerapan makanan. Lakukan eksperimen berikut untuk
mengetahui pengaruh lipatan terhadap proses penyerapan.

Usus halus terbagi menjadi tiga bagian seperti berikut:
a. duodenum (usus 12 jari), panjangnya ± 25 cm,
b. jejunum (usus kosong), panjangnya ± 7 m,
c. ileum (usus penyerapan), panjangnya ± 1 m.

Kimus yang berasal dari lambung mengandung molekul-
molekul pati yang telah dicernakan di mulut dan lambung,
molekul-molekul protein yang telah dicernakan di lambung,
molekul-molekul lemak yang belum dicernakan serta zat-zat lain.
Selama di usus halus, semua molekul pati dicernakan lebih
sempurna menjadi molekul-molekul glukosa. Sementara itu
molekul-molekul protein dicerna menjadi molekul-molekul asam
amino, dan semua molekul lemak dicerna menjadi molekul
gliserol dan asam lemak.

Pencernaan makanan yang terjadi di usus halus lebih banyak
bersifat kimiawi. Berbagai macam enzim diperlukan untuk
membantu proses pencernaan kimiawi ini.
Hati, pankreas, dan kelenjar-kelenjar yang terdapat di dalam
dinding usus halus mampu menghasilkan getah pencernaan.
Getah ini bercampur dengan kimus di dalam usus halus. Getah
pencernaan yang berperan di usus halus ini berupa cairan
empedu, getah pankreas, dan getah usus.

a. Cairan Empedu
Cairan empedu berwarna kuning kehijauan, 86% berupa
air, dan tidak mengandung enzim. Akan tetapi, mengandung
mucin dan garam empedu yang berperan dalam pencernaan
makanan. Cairan empedu tersusun atas bahan-bahan
berikut.
1) Air, berguna sebagai pelarut utama.
2) Mucin, berguna untuk membasahi dan melicinkan
duodenum agar tidak terjadi iritasi pada dinding usus.
3) Garam empedu, mengandung natrium karbonat yang
mengakibatkan empedu bersifat alkali. Garam empedu
juga berfungsi menurunkan tegangan permukaan lemak
dan air (mengemulsikan lemak).

Cairan ini dihasilkan oleh hati. Perhatikan Gambar 6.9.
Hati merupakan kelenjar pencernaan terbesar dalam tubuh
yang beratnya ± 2 kg. Dalam sistem pencernaan, hati
berfungsi sebagai pembentuk empedu, tempat penimbunan
zat-zat makanan dari darah dan penyerapan unsur besi dari
darah yang telah rusak. Selain itu, hati juga berfungsi
membentuk darah pada janin atau pada keadaan darurat,
pembentukan fibrinogen dan heparin untuk disalurkan ke
peredaran darah serta pengaturan suhu tubuh.

Empedu mengalir dari hati melalui saluran empedu dan
masuk ke usus halus. Dalam proses pencernaan ini, empedu
berperan dalam proses pencernaan lemak, yaitu sebelum
lemak dicernakan, lemak harus bereaksi dengan empedu
terlebih dahulu. Selain itu, cairan empedu berfungsi
menetralkan asam klorida dalam kimus, menghentikan
aktivitas pepsin pada protein, dan merangsang gerak
peristaltik usus.

b. Getah Pankreas
Getah pankreas dihasilkan di dalam organ pankreas.
Pankreas ini berperan sebagai kelenjar eksokrin yang
menghasilkan getah pankreas ke dalam saluran pencernaan
dan sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon
insulin. Hormon ini dikeluarkan oleh sel-sel berbentuk pulau-
pulau yang disebut pulau-pulau langerhans. Insulin ini
berfungsi menjaga gula darah agar tetap normal dan
mencegah diabetes melitus.

Getah pankreas ini dari pankreas mengalir melalui
saluran pankreas masuk ke usus halus. Dalam pankreas
terdapat tiga macam enzim, yaitu lipase yang membantu dalam
pemecahan lemak, tripsin membantu dalam pemecahan pro-
tein, dan amilase membantu dalam pemecahan pati.

c. Getah Usus
Pada dinding usus halus banyak terdapat kelenjar yang
mampu menghasilkan getah usus. Getah usus mengandung
enzim-enzim seperti berikut.
1) Sukrase, berfungsi membantu mempercepat proses pe-
mecahan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.
2) Maltase, berfungsi membantu mempercepat proses
pemecahan maltosa menjadi dua molekul glukosa.
3) Laktase, berfungsi membantu mempercepat proses
pemecahan laktosa menjadi glukosa dan galaktosa.
4) Enzim peptidase, berfungsi membantu mempercepat
proses pemecahan peptida menjadi asam amino.

Monosakarida, asam amino, asam lemak, dan gliserol
hasil pencernaan terakhir di usus halus mulai diabsorpsi atau
diserap melalui dinding usus halus terutama di bagian
jejunum dan ileum. Selain itu vitamin dan mineral juga
diserap. Vitamin-vitamin yang larut dalam lemak,
penyerapannya bersama dengan pelarutnya, sedangkan
vitamin yang larut dalam air penyerapannya dilakukan oleh
jonjot usus.

Penyerapan mineral sangat beragam berkaitan dengan
sifat kimia tiap-tiap mineral dan perbedaan struktur bagian-
bagian usus. Sepanjang usus halus sangat efisien dalam
penyerapan Na+, tetapi tidak untuk Cl
–, HCO3
–, dan ion-ion
bivalen. Ion K+
penyerapannya terbatas di jejunum.
Penyerapan Fe++ terjadi di duodenum dan jejunum.
Proses penyerapan di usus halus ini dilakukan oleh villi
(jonjot-jonjot usus). Di dalam villi ini terdapat pembuluh darah,
pembuluh kil (limfa), dan sel goblet. Di sini asam amino dan
glukosa diserap dan diangkut oleh darah menuju hati melalui
sistem vena porta hepatikus, sedangkan asam lemak
bereaksi terlebih dahulu dengan garam empedu membentuk
emulsi lemak. Emulsi lemak bersama gliserol diserap ke
dalam villi. Selanjutnya di dalam villi, asam lemak dilepaskan,
kemudian asam lemak mengikat gliserin dan membentuk
lemak kembali. Lemak yang terbentuk masuk ke tengah villi,
yaitu ke dalam pembuluh kil (limfa).

Melalui pembuluh kil, emulsi lemak menuju vena sedang-
kan garam empedu masuk ke dalam darah menuju hati dan
dibentuk lagi menjadi empedu. Bahan-bahan yang tidak dapat
diserap di usus halus akan didorong menuju usus besar
(kolon).

5. Usus besar
Usus besar atau kolon memiliki panjang ± 1 meter dan terdiri
atas kolon ascendens, kolon transversum, dan kolon descendens.
Di antara intestinum tenue (usus halus) dan intestinum
crassum (usus besar) terdapat sekum (usus buntu).
Pada ujung sekum terdapat tonjolan kecil yang disebut
appendiks (umbai cacing) yang berisi massa sel darah
putih yang berperan dalam imunitas.

Zat-zat sisa di dalam usus besar ini didorong ke
bagian belakang dengan gerakan peristaltik. Zat-zat sisa
ini masih mengandung banyak air dan garam mineral
yang diperlukan oleh tubuh. Air dan garam mineral
kemudian diabsorpsi kembali oleh dinding kolon, yaitu
kolon ascendens. Zat-zat sisa berada dalam usus besar
selama 1 sampai 4 hari. Pada saat itu terjadi proses
pembusukan terhadap zat-zat sisa dengan dibantu
bakteri Escherichia coli, yang mampu membentuk
vitamin K dan B12. Selanjutnya dengan gerakan
peristaltik, zat-zat sisa ini terdorong sedikit demi sedikit
ke saluran akhir dari pencernaan yaitu rektum dan
akhirnya keluar dengan proses defekasi melewati anus.

Defekasi diawali dengan terjadinya penggelembungan bagian
rektum akibat suatu rangsang yang disebut refleks gastrokolik.
Kemudian akibat adanya aktivitas kontraksi rektum dan otot
sfinkter yang berhubungan mengakibatkan terjadinya defekasi.
Di dalam usus besar ini semua proses pencernaan telah selesai
dengan sempurna.

Posted on by elvimonasari | Leave a comment

askep ca laring

BAB I

PENDAHULUAN

 

      Latar Belakang

Laring atau organ suara adalah struktur epitel kartilago yang menghubungkan laring dan trakea. Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi. Laring juga melindungi jalan nafas bawah dari obstrusi benda asing dan memudahkan batuk. Laring sering disebut sebagai kotak suara dan terdiri dari Epiglottis,Glottis, Kartilago tiroid, Kartilago trikoid, Kartilago aritenoid, Pita Suara,

Karsinoma laring merupakan tumor ganas ketiga menurut jumlah tumor ganas di bidang THT dan lebih banyak terjadi pada pria berusia 50-70 tahun. Yang tersering adalah jenis karsinoma sel skuamosa.

Belum diketahui secara pasti, adapun faktor predisposisi yang dapat menyebabkan Ca. laring adalah Rokok,Alkohol,Terpapar oleh sinar radioaktif,Infeksi kronis (Herves simpleks)

     Rumusan Masalah

      1.      Apa pengertian dari laring dan kanker laring?

      2.      Bagamana etiologi, patofisiologi dan terapi kanker laring?

      3.      Bagaimana  melakukan pengkajian pada pasien dengan penyakit kanker laring

      4.      Bagaimana  merumuskan diagnosa Keperawatan  pada  pasien dengan kanker laring.

      5.      Bagaimana  menyusun rencana keperawatan pada pasien dengan kamker laring.

 

Tujuan Penulisan

Tujuan Umum :

Agar mahasiswa/I dapat mengetahui asuhan keperawatan medical bedah tentang Ca. Laring dan mampu melaksanakan asuhan Keperwatan.

Tujuan Khusus :

1.      Mampu memahami konsep dasar dari kanker laring,

2.      Mampu mnjelaskan bagaimana etiologi, patofisiologi dan terapinya

3.      Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan penyakit kanker laring

4.      mampu merumuskan diaknosa Keperawatan  pada  pasien dengan kanker laring.

5.      Mampu menyusun rencana keperawatan pada pasien dengan kamker laring.

6.      mempu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan kanker paru-paru

7.      Mampu mengevaluasi asuhan Keperawatan

 

      Metode Penulisan 

Metode yang digunakan adalah penulis menggunakan study pustaka yang diambil dari beberapa sumber.

 

      Sistematika Penulisan

Bab I      :  Pendahuluan

Meliputi Latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan

Bab II        :Asuhan Keperawatan Pada Klien  Dengan Gangguan Sistim Perafasan Akibat Kanker Laring.

      a.       Pengertian

      b.      Etiologi

      c.       Patofisiologi

      d.      Manifestasi klinis

      e.       Pemeriksaan penunjang

      f.       Penatalaksanaan medis

      g.      Konsep teori asuhan keperawatan pada kanker laring

      h.      Pengkajian

      i.        Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul

      j.        Rencana asuhan keperawatan

      k.      Implementasi

      l.        Evaluasi

Bab III   :  Kesimpulan

Daftar Kepustakaan

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

     1.    Pengertian

Laring atau organ suara adalah struktur epitel kartilago yang menghubungkan laring dan trakea. Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi. Laring juga melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk. Laring sering disebut sebagai kotak suara dan terdiri atas:

      a.       Epiglottis daun katub kartilago yang menutupi ostium kea rah laring selama menelan.

      b.      Glottis, ostium antara pita suara dalam laring.

      c.       Kartilago tiroid, kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari ini membentuk jakun.

      d.      Kartilago trikoid, satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring

      e.       Kartilago aritenoid, digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid.

      f.       Pita Suara, ligament yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara, pita suara melekat pada lumen laring.

Karisoma laring merupakan tumor ganas ketiga menurut jumlah tumor ganas di bidang THT dan lebih banyak terjadi pada pria berusia 50-70 tahun. Yang tersering adalah jenis karsinoma sel skuamosa

Tahapan kanker laring

Tahap kanker menjelaskan seberapa jauh ia telah tumbuh dan apakah telah menyebar. Hal ini penting karena dokter ketika memutuskan mengambil pengobatan. Ada beberapa cara yang berbeda stadium kanker.Dua cara utama adalah sistem TNM dan sistem nomor.

Tahap TNM

‘TNM’ singkatan Tumor, Node, dan Metastasis. Sistem ini menggambarkan ukuran tumor primer (T), apakah kelenjar getah bening memiliki sel kanker pada mereka (N), dan apakah kanker telah menyebar ke bagian lain dari tubuh (M).

Jumlah tahap kanker laring

 Ada empat tahap utama dalam sistem ini – tahap 1 sampai 4. Tahap 0 adalah tahap awal dan tahap 4 yang paling maju

Nilai dari kanker memberitahu Anda berapa banyak sel-sel kanker tampak seperti sel-sel normal di bawah mikroskop. Ada 3 tingkatan kanker laring. Kelas 1 disebut kelas rendah, kelas 3 dan 2  adalah kelas penengah, dan kelas 4 adalah kelas tinggi. kanker grade rendah biasanya lebih lambat untuk tumbuh dan kecil kemungkinannya untuk menyebar dari kanker kelas tinggi.

Ada 4 tahap ‘T’ utama kanker laring

  • T1 berarti tumor hanya satu bagian dari laring dan pita suara mampu bergerak dengan normal
  • T2 berarti tumor telah tumbuh menjadi bagian lain dari laring. Pita suara mungkin atau mungkin tidak akan terpengaruh
  • T3 berarti tumor seluruh laring tetapi belum menyebar lebih jauh dari penutup laring.
  • T4 berarti tumor telah berkembang menjadi jaringan tubuh luar laring. Ini mungkin telah menyebar ke tiroid, pipa udara (trakea) atau pipa makanan (esofagus)

Ada 4 tahap simpul utama kanker getah bening di laring, tetapi N2 dibagi menjadi N2a, N2b dan N2c. Poin penting di sini adalah apakah ada kanker di salah satu node dan jika demikian, ukuran dari node dan yang sisi leher itu ada di.

           ·         N0 berarti ada kelenjar getah bening tidak mengandung sel-sel kanker

  • N1 berarti ada sel-sel kanker dalam satu node getah bening pada sisi yang sama dari leher sebagai kanker, tetapi node kurang dari 3cm
  • N2a berarti ada kanker pada satu node getah bening pada sisi yang sama dari leher dan itu adalah antara 3cm dan 6 cm
  • N2b berarti ada kanker di lebih dari satu node getah bening, tetapi tidak ada lebih dari 6cm di seluruh. Semua node harus berada di sisi yang sama dari leher sebagai kanker
  • N2c berarti ada kanker pada kelenjar getah bening di sisi lain dari leher dari tumor, atau pada kelenjar di kedua sisi leher, tetapi tidak ada yang lebih dari 6 cm
  • N3 berarti bahwa paling tidak satu kelenjar getah bening yang mengandung kanker lebih besar dari 6 cm di

TNM’ singkatan Tumor, Node, dan Metastasis. Sistem ini menggambarkan

  • Ukuran tumor primer (T)
  • Apakah kelenjar getah bening memiliki sel kanker pada mereka (N)
  •  Apakah kanker telah menyebar ke bagian lain dari tubuh (M)

     2.    Etiologi

Belum diketahui secara pasti, adapun faktor predisposisi yang dapat menyebabkan Ca. laring adalah :

     ·      Rokok

     ·      Alkohol

     ·      Terpapar oleh sinar radioaktif

     ·      Infeksi kronis (Herves simpleks

      3.      Patifisiologi

 

Faktor predisposisi

(alkohol, rokok, radiasi)

proliferasi sel laring

Diferensiasi buruk sel laring

Ca. Laring

 

 
   

 

Metastase supraglotik

Obstruksi lumen oesophagus

Disfagia progresif

Intake <

BB ↓

Gangg. Pemenuhan nutrisi

Plica vocalis

Suara parau

Afonia

Gangg. Komunikasi verbal

Menekan/ mengiritasi serabut syaraf

Nyeri dipersepsikan

Gangg. Rasa nyaman : nyeri

 

stridor

   Obstruksi jalan napas

Mengiritasi sel laring

Infeksi

Akumulasi sekret

Bersihan jalan napas tak efektif

      4.      Manisfestasi klinis

     ·      Nyeri tenggorok

     ·      Sulit menelan

     ·      Suara Serak

     ·      Hemoptisis dan batuk

     ·      Sesak nafas

     ·      Berat Badan turun

 

      5.      Pemeriksaan Penunjang

  Ø  Laringoskop

Untuk menilai lokasi tumor, penyebaran tumor.

  Ø  Foto thoraks

Untuk menilai keadaan paru, ada atau tidaknya proses spesifik dan metastasis di paru.

  Ø  CT-Scan

Memperlihatkan keadaan tumor/penjalaran tumor pada tulang rawan tiroid dan daerah pre-epiglotis serta metastasis kelenjar getah bening leher.

 

 

  Ø  Biopsi laring

Untuk pemeriksaan patologi anatomik dan dari hasil patologi anatomik yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa

 

6.      Penatalaksanaan

  Ø  Stadium I dikirim untuk radiasi, stadium 2 dan 3 untuk operasi dan stadium 4 operasi dengan rekonstruksi atau radiasi

  Ø  Terapi Radiasi

Pada pasien yang hanya mengalami satu pita suara yang sakit dan mormalnya dapat digerakkan. Terapi radiasi juga dapat digunakan secara proferatif untuk mengurangi ukuran tumor.

  Ø  Operasi : Laringektomi

      ·         Laringektomi Parsial: direkomendasikan pada kanker area glottis tahap dini ketika hanya satu pita suara yang terkena.

      ·         Leringektomi Supraglotis: digunakan untuk tumor supraglotis.

      ·         Laringektomi hemivertikal: dilakukan jika tumor meluas diluar pita suara, tetapi perluasan tersebut kurang dari 1 cm dan terbatas pada area subglotis.

      ·         Laringektomi Total : dilakukan ketika tumor meluas diluar pita suara.

  Ø  Pemakaian Sitostatika belum memuaskan,biasanya jadwal pemberian sitostatika tidak sampai selesai karena keadaan umum memburuk.

  Ø  Rehabilitasi khusus (voice rehabilitation), agar pasien dapat berbicara/ bersuara sehingga dapat berkomunikasi secara verbal.Rehabilitasi suara dapat dilakukan dengan pertolongan alat bantu suara yakni semacam vibrator yang ditempelkan di daerah sub mandibula, ataupun dengan suara yang dihasilkan dari esofagus (esophangeal speech) melalui proses belajar

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN GANGGUAN CA. LARING

 

      1.      Pengkajian

     a.    Identitas Diri

Identitas yang harus diketahui perawat meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, kepercayaan, status pendidikan dan pekerjaan klien.

     b.    Identitas Penaggung jawab

Identitas yang harus diketahui perawat meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, kepercayaan, status pendidikan dan pekerjaan penanggung jawab dan hubungan dengan klien.

     c.    Keluhan Utama

Keluhan utama pada klien ca. Laring meliputi nyeri tenggorok. sulit menelan,sulit bernapas,suara serak,hemoptisis dan batuk ,penurunan berat badan, nyeri tenggorok, lemah.

     d.   Riwayat Penyakit Sekarang

Biasanya suara serak adalah hal yang akan Nampak pada pasien dengan kanker pada daerah glottis, pasien mungkin mengeluhkan nyeri dan rasa terbakar pada tenggorokan, suatu gumpalan mungkin teraba di belakang leher. Gejala lanjut meiputi disfagia, dispnoe, penurunan berat badan.

     e.    Riwayat Penyakit Dahulu

     –       Tanyakan apakah klien pernah mengalami infeksi kronis

     –        Tanyakan pola hidup klien (merokok, minum alkohol)

     f.     Riwayat Penyakit Keluarga

Tanyakan pada klien apakah ada keluarga yang pernah mengalami penyakit yang sama. Atau adakah keluarga yang meninggal akibat penyakit ini

 

     g.    Pemeriksaan Fisik

     1.    System pencernaan

Adanya Kesulitan menelan.

Tanda : Kesulitan menelan, mudah tersedak, sakit menelan, sakit tenggorok yang menetap.Bengkak, luka. Inflamasi atau drainase oral, kebersihan gigi buruk. Pembengkakan lidah dan gangguan reflek.

      2.      Neurosensori

Gejala : Diplopia (penglihatan ganda), ketulian.

Tanda : Hemiparesis wajah (keterlibatan parotid dan submandibular). Parau menetap atau kehilangan suara (gejala dominan dan dini kanker laring intrinsik). Kesulitan menelan. Kerusakan membran mukosa.

      3.      System  Pernapasan

-Adanya benjolan di leher

-Asimetri leher

-Nyeri tekan pada leher

-Adanya pembesaran kelenjar limfe

– dipsnoe

– sakit tenggorokan

– suara tidak ada

 

       4.        Pemeriksaan Penunjang

Ø Laringoskop

Untuk menilai lokasi tumor, penyebaran tumor.

Ø Foto thoraks

Untuk menilai keadaan paru, ada atau tidaknya proses spesifik dan metastasis di paru.

Ø CT-Scan

Memperlihatkan keadaan tumor/penjalaran tumor pada tulang rawan tiroid dan daerah pre-epiglotis serta metastasis kelenjar getah bening leher.

Ø Biopsi laring

Untuk pemeriksaan patologi anatomik dan dari hasil patologi anatomik yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa

 

      2.      Diagnosa Keperawatan yang mungkin timbul

                  a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan pengangkatan sebagian atau seluruh glotis, gangguan kemampuan untuk bernapas, batuk dan menelan, serta sekresi banyak dan kental.

                  b.       Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan defisit anatomi (pengangkatan batang suara).

                  c.       Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan penekanan serabut syaraf oleh sel-sel tumor

                  d.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan saluran pencernaan.(disfagia)

                  e.        Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan suara,perubahan anatomi wajah dan leher.

 

     3.    Rencana keperawatan

Diagnosa 1

Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan pengangkatan sebagian atau seluruh glotis, gangguan kemampuan untuk bernapas, batuk dan menelan, serta sekresi banyak dan kenta

 

Tujuan dan criteria hasil

INTERVENSI

RASIONAL

Tujuan: jalan  nafas kembali normal

 

Kriteria hasil :

–      Pola napas klien efektif

Memperlihatkan  kepatenan jalan napas dengan bunyi napas bersih/jelas

–          Kaji frekuensi/kedalaman pernapasan catat kemudahan bernafas. Auskultasi bunyi napas. Selidiki kegelisahan,dispea, terjadinya sianosis.

 

–          Awasi pasien untuk posisi yang  nyaman, misal : peninggian kepala tempat tidur 30-450.

 

 

 

 

 

 

 

-Bimbing pasien untuk nafas dalam dan batuk efekt.

 

 

 

Kolaborasi :

–         berikan ekspektoran, atau analgesik sesuai indikasi

 

 

 

 

 

–          Awasi AGD

 

 

 

 

–          Kolaborasi untuk therapi pembedahan.

–          Perubahan  pada  pernafasan, penggunaan  otot aksesori pernafasan dan atau adanya ronkhi/mengi diduga ada retensi sekret.

 

 

 

–          Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi, namun pasien dengan infiltrasi tumor ke trakhea akan mencari posisi yang mudah untuk bernafas.

 

 

 

–          Memobilisasi sekret untuk membersihkan jalan napas dan membantu mencegah komplikasi pernafasan.

 

 

–       untuk memperbaiki aliran udara. Ekspektoran meningkatkan produksi mukosa untuk mengencerkan dan menurunkan viskositas sekret, memudahkan pembuangan.

–          Pengumpulan sekret/adanya atelektasis dapat menyebabkan pneumonia yang memerlukan terapi lebih lanjut.

–          Menentukan intervensi yang lebih spesifik.

 

Diagnosa 2:.

Gangguan komunikasi verbal b/d defisit anatomi (pengangkatan batang suara).

 

Tujuan dan criteria hasil

INTERVENSI

RASIONALISASI

 

–        Kriteria hasil : pasien/klien mampu mengkomunikasikan kebutuhannya dengan baik.

–          Kaji kemampuan baca klien.

 

 

 

–          Anjurkan penggunaan komunikasi meliputi kertas dan pensil, papan gambar, papan tulis, alat papan komunikasi elektrik atau alat lainnya yang mendukung.

–          Bantu pasien dengan latihan untuk meningkatkan kualitas suara, nada, dan volume suara.

–          Letakkan bel dalam jangkauan klien setiap saat.

 

–          Kolaborasi dengan rehabilitasi suara (voice rehabilitation)

–          Untuk membuat Perencanaan dan terciptanya cara-cara komunikasi yang baik dan sesuai.

–          Mengembangkan dan meningkatkan komunikasi.

 

 

 

 

 

 

–          Meningkatkan fonasi yang terpengaruh pada pasien dengan ca.laring.

 

 

–          Memberikan metode untuk memanggil dan meminta pertolongan jika diperlukan.

–          Memberika therapi berbicara/ bersuara sehingga dapat berkomunikasi secara verbal.

 

Diagnosa keperawatan 3

 Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d penekanan serabut syaraf oleh sel-sel tumor

Kriteria hasil : melaporkan pengurangan nyeri

TUJUAN DAN KRITERIA HASIL

INTERVENSI

RASIONAL

Tujuan: Kebutuhn rasa nyaman ternuhi

 

Kriteria hasil

–       Rasa nyeri bisa teratasi

–          Tentukan riwayat nyeri, misal : lokasi nyeri, frekuensi, durasi dan intensitas (skala 1-10) dan tindakan penghilangan yang digunakan.

 

 

–          Berikan tindakan kenyamanan dasar,misal : reposisi dan aktivitas hiburan.

–          Bimbing pasien dalam penggunaan keterampilan manajemen nyeri (misal : teknik relaksasi) tertawa, musik dan sentuhan teraupetik.

–          Kembangkan rencana manajemen nyeri dengan pasien dan dokter.

 

 

 

 

–          Kolaborasi untuk pemberian analgetik. (mis. Morfin, metadon atau campuran narkotik intravena khusus).

–          Informasikan memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan/keefektifan intervensi. Catatan : pengalaman nyeri adalah individu atau digabungkan dengan baik respon fisik dan emosional.

–          Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian.

 

–          Memungkinkan pasien untuk berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan.

 

–          Rencana terorganisir mengembangkan kesempatan untuk kontrol nyeri terutama nyeri kronis, pasien atau orang terdekat harus aktif menjadi partisipasi dalam manajemen nyeri.

 

–          Nyeri adalah komplikasi sering dari kanker, meskipun respon individual berbeda-beda. Catatan : adiksi/ketergantungan obat bukan masalah.

 

Diagnosa keperawatan 4:

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan saluran pencernaan.(disfagia)..

Tujuan dan kriteria hasil

Inrvensi

Rasional

Tujuan : klien akan mempertahankan kebutuhan nutrisi yang tidak adekuat

Kriteria hasil : Membuat pilihan diit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam situasi individu, menunjukkan peningkatan BB dan penyembuhan jaringan atau insisi sesuai waktunya.

 

–   Timbang BB dan porsi makan.

–   Pantau masukan makanan setap hari

–   Identifikasi pasien yang mengalami mual/ muntah yang diantisipasi

 

–   Berikan diet nutrisi seimbang (misalnya semikental atau makanan halus) atau makanan selang (contoh makanan dihancurkan atau sediaan yang dijual) sesuai indikasi.

–   Kolaborasi :

 

–   berikan obat-obatan sesuai indikasi. Fenotiazin, mis : Proklorperazin (compazine), tietilperazin (Torecan), anti dopaminergik mis ; metoklorpiamid (regian), dll.

 

 

 

–   Kolaborasi dengan dokter untuk pemasangan NGT atau infus

–       Untuk mengetahui Berat badan pasien.

–       Mengidentifikasi kekuatan /defisiensi nutrisi

–       Mual /muntah psikogenik sebelum kemoterapi mulai secara umum tidak berespons terhadap obat anti emetic.

 

–       macam-macam jenis makanan dapat dibuat untuk tambahan atau batasan faktor tertentu, seperti lemak dan gula atau memberikan makanan yang disediakan pasien.

 

 

 

 

–       Kebanyakan anti emetik bekerja untuk mempengaruhi stimulasi pusat muntah sejati dan kemoreseptor mentriger agen zona juga bertindak secara perifer untuk menghambat peristaltik balik

 

 

–       Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi klien

       Diagnosa 5:

Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan suara,perubahan anatomi wajah dan leher.

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional

Tujuan : Mengidentifikasi perasaan dan metode koping untuk persepsi negatif pada diri sendiri.

Kriteria hasil : menunjukkan adaptasi awal terhadap perubahan tubuh sebagai bukti dengan partisipasi aktivitas perawatan diri dan dapat  berinteraksi positip dengan orang lain.

1.   Berikan kesempatan pada klien untuk mengekspresikan kecemasannya.

2.   Diskusikan arti kehilangan atau perubahan dengan pasien, identifikasi persepsi situasi atau harapan yang akan datang.

3.    Catat reaksi emosi, contoh kehilangan, depresi, marah.

 

4.   Libatkan orang-orang terdekat seperti orang tua,teman,untuk memberikan support pada klien.

5.   Pendekatan spiritual sesuai dengan agama yang dianut klien.

1.  Untuk mengungkapkan perasaan klien dan mengurangi kecemasan

2.  Agar klien dapat menerima kenyataan

 

 

3.  Untuk mngetahui perubahan emosi klien.

 

4.  Untuk memotivasi klien dan mengurangi kecemasan klien.

 

5.  Untuk meningkatkan keyakinan pada klien bahwa tuhan akanmenyembuhkan

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

tugas praktek keperawatan

  1. TANDA PRAKTIK KEPERAWATAN

Standar praktik merupakan salah satu perangkat yang di perlukan oleh setiap tenaga professional. Standar praktik keperawatan mengidentifikasi harapan – harapan minimal bagi para perawat professional dalam memberikan asuhan keperawatan yang aman, efektif dan etis.

Dengan adanya standar praktik keperwatan, maka profesi keperawatan dapat mewujudkan tanggung jawab atau kebulatan tekadnya untuk melindungi masyarakat.

Standar praktik keperawatan membantu dan menuntun para perawat dalam menjelaskan tugasnya dalam memberikan asuhan keperawatan.

Penyusunan dan pelaksanaan standar praktik merupakan fungsi utama organisasi profesi dalam hal ini meliputi :

  1. Menentukan, mempertahankan dan meningkatkan standar
  2. Mempertahankan anggota untuk akuntabilitas dalam menggunakan standar
  3. Memdidik masyarakt untik menghatgai standar
  4. Melindungi masyarakat dari induvidu yang tidak memnuhi standar atau tidak ingin mengikuti standar
  5. Melindungi anggota profesi satu sama lainnya (haneut dan lang, lihat kozier, erb, 1990)

Model standar praktik keperawatn pada tiap-tiap Negara cukup bervariasi. Seara umum komponen yang dapat di masikkan dalam standar praktik keperawatan adalah ;

  1. Pernyataan tentang pengetahuan keperawatn yang harus di pahami dan di analisa oleh perawat professional seperti konsep dasar keperawatan, peran perawat, hubugan interpersonal, proses keperwatan, prinsip intervensi dan masalah kesehatan yang lazim, situasi klien, upaya kesehatan, masalah kesehatan/keperawatan,metodologi penelitian,kepemimpinan, managemen, dan sistem kesehatan;
  2. Akuntabilitas propesional baik idependen maupun interdependen
  3.  dan tahab demi tahab proses keperawatan (College of Nurses of Ontario, 1990).

Standar praktik keperawatan juga harus membedakan antara tanggung jawab perawat propesional dan asisten perawat kesehatan. Dengan adanya pembedaan ini maka kedua pihak dapat mengetahui tanggung jawab masing-masing dan dapat saling membantu.

Standar praktik keperawatan di Indonesia telah diterbitkan oleh departemen Kesehatan pertama kali pada tahu 1986. Standar ini diharapkan dapat merupakan penuntun dasar bagi para perawat kesehatan dalam menjalankan tugasnya .

Lingkup Standar Praktik Keperawatan Indonesia meliputi :

1. Standar Praktik Professional
   a. Standar I Pengkajian
   b. Standar II Diagnosa Keperawatan
   c. Standar III Perencanaan
   d. Standar IV Pelaksanaan Tindakan (Impelementasi)
   e. Standar V Evaluasi

2. Standar Kinerja Professional
   a. Standar I Jaminan Mutu
   b. Standar II Pendidikan
   c. Standar III Penilaian Kerja
   d. Standar IV Kesejawatan (collegial)
   e. Standar V Etik
   f. Standar VI Kolaborasi
   g. Standar VII Riset
   h. standar VIII Pemanfaatan sumber-sumber

Posted in Uncategorized | Leave a comment

makalah konsep dasar nyeri

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1            LATAR BELAKANG

Belakangan ini , kehidupan sehari-hari kita sering merasakan nyeri yang membuat ketidak nyamanan dalam hidup kita,sebagian dari individu merasa tidak kwatir terhadap nyeri,dan sebgian individu merasa cemas,takut terhadap nyeri itu.banyak diantara individu yang tidak bisa menyelesaikan masalah ketidak nyamanan ini,untuk itu saya membuat makalah ini,untuk memberi petunjuk bagi pembaca dalam menyelesaikan masalah ketidak nyamanan yaitu nyeri

1.2            TUJUAN

Makalah ini betujuan untuk menerangkan,membuktikan,menjelaskan,serta menerapkan konsep dasar nyeri dalam menyelesaikan masalah ketidak nyamanan

1.3            MANFAAT

Menambah wawasan tentang konsep dasar nyeri dan  menerapkan dalam kehidupan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 PENGERTIAN

Muenurut LONG,1996 ,Nyeri adalah perasaan yang tidk nyaman,sngt subjektif ,dan hanya orng yang mengalami yang dapt mengungkapkan dan menjelaskanya perasaan tersebut

 Menurut PRIHARJO,1992,perasaan tidak nyaman baik ringan maupun berat

2.2 fisiologi nyeri

Bagaiman nyeri merambat dan di persepsikan oleh individu masih belum sepenuhnya di mengerti.akan tetapi ,bisa tidaknya nyeri diraskan dan hingga derajat mana nyeri 

                                                          1

tersebut mengganggu di pengaruhi oleh interaksi antaras sistem algesia,transmisi saraf serta insiterpretasi stimulus

q Nosisepsi

Reseptor yang bertugas merambat sensasi nyeri disebut nosiseptor,nosiseptor merupakan ujung-ujung saraf perifer yang bebas.reseptor nyeri tersebut dapat di rangsang oleh stimulus mekanisme,suhu,atau kimawi,sedangkan proses fisiologi terkait nyeri di sebut nosisepsi

 

 Prose tersebut Terdiri atas  4 fase:

  • Ø Transduksi adanya rangsangan yang membahayakan(bhn kimia,suhu,listrik)memicu pelepasan mediator biokimia yang mensensitisasi nosiseptor
  • Ø Transmisi ,fase ini terdiri dari 3 bagian:

Pada bagian pertama:nyeri merambat dari Seraput saraf perifer ke medula spinalis.serabut nosiseptor yang terlibat adalah serabut C,yang mentransmisikan nyeri tumpuldan menyakitkan .dan serabut A-delta yang mentransmisikan nyeri tajam

Bagian ke dua:transmisi nyeri dari Medula spinalis ke otak dan talamus melalui spinotalamic tract (stt) yang membawa informasi mengenai sifat dan lokasi dari stimulus ke stimulus

2

 

Bagian ke tiga:sinyal dari stimulus tadi di teruskan  ke korteks sensor motorik,tempat nyeri di persepsikan

 

  • Ø Persepsi,pada fase ini kita mulai menyadari adanya nyeri ,sehingga munculnya berbagi prilaku kognitif untuk mengurangi komponen sensorik,dan afektif nyeri
  • Ø Modulasi(sistem desenden) pada fase ini neuron di batang otak mengirim sinyal-sinyal ke medula spinalis ,dan melepaskan subtansi (opioid,serotonin, )yang akan menghambat impuls aseden yang membahayakan di bagian medula spinalis

 

 

q Teori gate kontrol

Banyak teori yang menjelaskan fisiologi nyeri ,namun yang paling sederhana adalah teori gate control(Melzeck dan well)

Teori ini menjelaskan bahwa subtansi gelatinosa pada medula spinalis bekerja layaknya pintu gerbang yang memungkinkan atau menghalangi masuknya implus nyeri ke otak

 

3

 

 

 

Berikut teori transmisi nyeri

JENIS TEORI

 

RESPON FISIOLOGI

 

PEMISAHAAN(SPEcifity)

 

Resepror nyeri tertentu akan menyalaurkan implus sraf nyeri ke otak,proses ini tdk memperhitungkan aspek fisiologi persepsi dan respon nyeri

 

Pola(pattem)

 

Nyeri terjadi karena efek gabungan dari intensitas stimulus,dan jumlah implus pada ujung dorsal medula spinalis,ini tdk termasuk aspek fisiologi

 

Teori gate control

 

Nyeri terjadi karena efek gabungan dari intensitas stimulus,dan jumlah implus pada ujung dorsal medula spinalis,ini tdk termasuk aspek fisiologi

 

Transmisi dan inhibisi

 

Stimulus yang mengenal nosiseptor memulai transmisi implus saraf.inhibisi implus nyeri menjadi efektif oleh adanya : 1)implus menuju serabut  besar yang membelok implus pada searbut serabut lambat 2)sistem supresif oplat endogen

 

 

2.3 Makna nyeri

  • Ø Berbahaya atau merusak
  • Ø Menunjukan adanya komplikasi(infeksi)
  • Ø Memerlukan penyembuhan
  • Ø Menyebabkan ketidak mampuan
  • Ø Merupakan hukuman akibat dosa
  • Ø Merupakan sesuatu yang harus di tolerensi

 

 

 

2.4 Persepsi nyeri

Persepsi nyeri ,tepatnya pada area korteks(fungsi evaluatif kognitif)muncul akibat stimulus menuju saraf spinnotalamikus dan talamiko kortikalis,

 

 

4

Bersifat:

q Objektif

q Sangat kompleks

 

q Persepsi nyeri bisa berkurang atau hilang pada periode stes berat atau emosi

Contoh: penderita luka bakar derajat III tidak akan merasa nyeri walaupun cederanya sngat hebat

2.4Toleransi nyeri

Toleransi terhadap nyeri terkait dengan intensitas nyeri yang membuat seseorang mampu menahan rasa nyeri seblum minta pertolongan.

Toleransi yang tinggièindividu mampu menahan nyeri yang berat sebelum mencari pertolongan

2.6 Reaksi nyeri

  • Setiap orang memberikan reaksi yang berbeda terhadap nyeri,diantaranya:

v Takut

v Gelisa

v Optimis

v Menangis

v Mengerang

5

v Menjerit

v Mondar mandir

Mengepal tangan,dll

Faktor reaksi nyeri

v Makna nyeri bagi individu

v Tingkat persepsi nyeri

v Pengalaman masa lalu

v Nilai budaya

v Harapan sosial

v Kesehatan fisik dan mental

v Sikap orang tua

v Lokasi nyeri

v Perassan takut

v usia

 

 

 

 

 

 

6

2.7 Jenis dan bentuk nyeri

q Jenis nyeri

  • Nyeri perifer,nyeri ini ada tiga jenis
    • Nyeri supersial,rasa nyeri yang muncul akibat ranagsangan pada kulit dan mukosa
    • Nyeri viseral,yakni nyeri yang muncul akibat stimulasi pada reseptor nyeri pad abdomen ,kranium,dan toraks
    • Nyeri alih,yakni nyeri yang dirasakan pada daerah yang jauh dari jaringan penyebab nyeri
    • Nyeri sentral ,yakni nyeri yang muncul akibat stimulasi pada medula spinalis ,batang otak,dan talamus
    • Nyeri psikogenik,nyeri yang tidak di ketahui penyebab fisiknya ,nyeri ini timbul akibat pikiran si penderita sendiri

q Bentuk nyeri

  • Ø Nyeri akut
  • Berlangsung tdk lebih dari 6 bulan
  • Gejalanya mendadak
  • Penyebab dan lokasi nyeri sudah di ketahui
  • Ditandai dengan penegangan otot dan kecemasan

 

 

7

 

  • Ø Nyeri kronis
  • Berlangsung lebih dari 6 bulan
  • Sumber nyeri bisa di ketahui/tidak
  • Hilng tmbul
  • Tidak dapat di sembuh
  • Pengindraan nyeri lebih mendalam
  • Sulit menunjukan lokasi

Dampaknya:

  • Mudah tersinggung

8

  • Kurang perhatian.
  • Sering putus asa

Perbedaan nyeri akut dan kronis

karateristik

 

Nyeri akut

Nyeri kronis

 

pengalaman

 

Suatu kejadian,jika klien baru mngalami episode nyeri

Suatu situasi, status eksistensi nyeri.

Sumber

 

Sebab eksternal  atau penyakit yang berasal dari dalam

 

Sumber nyeri tidak diketahui; klien sukar menentukan  sumber nyeri karena penginderaan nyeri yang sudah lebih dalam

Serangan

 

Mendadak

 

Bisa mendadak atau bertahap, tersembunyi

 

Durasi

Transien(sampai 6 bulan

Beberapa bulan hingga beberapa tahun

 

Pernyataan nyeri

 

Daerah nyeri umumnya diketahui dengan pasti.klien yang mengalami nyeri ini sering kali merasa takut dan khawatir dan berharap nyeri dapat segera teratasi. Nyeri ini dapat hilang setelah area yang mengalami gangguan kembali pulih

 

Daerah yang nyeri dan yang tidak, intensitasnya menjadi sukar di evaluasi. Klien yang mengalami nyeri ini kerap merasa tidak aman karena mereka tidak tahu apa yang mereka  rasakan. Dari hari ke hari klien mengeluh mengalami keletihan, insomnia, anokresia, depresi,  putus asa, dan sulit mengontrol emosi

 

Gejala krinis

 

Pola respon khas,dengan gejala yang lebih jelas

 

Bervariasi,kdng hllng,kdng bertmbah parah

 

perjalanan

 

Biasanya melaporkan kekeurngn gejala setelah beberapa waktu

 

Berlngsung terus

 

 

 

10

 

 

2.8 Faktor nyeri

v Etni dan nilai budaya

Latar belakang etnik dan budaya merupakan faktor yang memengaruhi reaksi terhadap nyeri dan ekspresi nyeri

Cntoh:individu dari buday tertentu cenderung mengukapkap nyeri yang mereka rasakan,sedngkan budaya lain lebih memilih untuk menahan ,mereka tidak ingin merepotkan orang lain

v Tahap perkembangan

Anak-anak cendrung kurang mampu mengungkapkan nyeri yang mereka rasakan,dibandingkan dengan orang dewasa,dan lansia lebih tinggi karena penyakit yang di derita

v Lingkungan dan individu pendukung

Lingkungan yang bising,tingkat kebisingan yang tinggi,pencahayaan  dan aktivitas yang tinggi,serta dukungan dari orang terdekat

Contoh:individu yang sendiri ,tanpa keluarga atau teman-teman akan cenderung merasakan nyeri yang lebih bert

 

12

 

v Pengalaman nyeri sebelumnya

Pengalaman masa lalu  memengaruhi kepekaan terhadap nyeri.individu yang pernah merasakan atau melihat penderit nyeri  merasa terancam dengan nyeri yang akan terjadi

v Ansietas dan stres

Ansietas sering kali menyertai peristiwa nyeri yang terjadi.ancaman yang tidak jelas asalnya dan ketidak mampuan mengontrol nyeri atau peristiwa sekililingnya dpat mempeberat persepsi nyeri.

2.9 mengukur intesitas nyeri

Hayword (1975)

Alat mengukur nyeri painometer

Intensitas nyeri sifatnya subjektif dipengaruhi oleh:

  • tingkat kesadaran
  • Konsentrasi
  • Jumlah distrasi
  • Tingkat aktivitas
  • Harapan keluarga

Skala nyeri Hayward

skala

keterangan

0

Tidak nyeri

1-3

Nyeri ringan

4-6

Nyeri sedang

7-9

Sangat nyeri,msh bisa di kontrol

10

Sngt nyeri tidak bisa di kontrol

 

McGill(Mcgill’scale)

Mengukur nyeri dengan menggunakan 5 angka

0ètidak nyeri

1ènyeri ringan

2ènyeri sedang

3ènyeri berat

4ènyeri sngt berat

5ènyeri hebat

 

 

 

 

14

 

 

 

 

3.1 Asuhan keperawatan klien yang mengalami nyeri

  • Pengkajian

Pengkajian nyeri yang akurat sangat penting ,untuk itu perawata perlu mengkaji semua faktor yang memengaruhi nyeri:

q Fisiologi

q Psikologi

q Perilaku

q Emosinal

q sosiokltural

  • Pengkajian nyeri terdiri dua komponen utama:
  1. Riwayat nyeri untuk mendapatkan data dari klien
  2. Observasi langsung pada respon perilaku fisiologi klien

Tujuan pengkajianèuntuk mendapatkan pemahaman objektif terhadap pengalaman subjektif

Mnmonik pengkajian nyeri

P

Provoking/pemicu yang menimbulkan nyeri

Q

Qualiti /kualitas nyeri(TUMPUL .TAJAM)

R

Regio/daerah=perjalnan

S

Severity/keganasan=intensitas

T

Tme/waktu=serangan,lama,kekerapan,sebab

 

Riwayat nyeri

  • Ø Lokasi

Menentukan lokasi nyeri yang spesifik

  • Ø Intensitas nyeri

Menggunakan skala intensitas

  • Ø Kualitas nyeri

Rasa yang di tmbulkan

  • Ø Pola

waktu,durasi,kekambuhan interval nyeri

16

  • Ø Faktor presipitasi

Aktivitas tertentu dapat memicu  munculnya nyeri

  • Ø Gejala yang menyertai

Mual.muntah,pusing,diare

  • Ø Pengaruh pda aktivitas sehari-hari

Tidur,nafsumakan,konsentrsi,pekerjaaan,hubgn pernikahan,aktivitas di rumah,emosional

  • Ø Sumber koping

Pengaruh agama atau budaya

  • Ø Respon efektif

Takut,lelah,depresi,

 

3.2 Observasi respon prilaku&fisiologi

respon nonverbal yang bisa dijadikan indikator nyeri,

  •  ekspresi wajah:
  • Menutup mata rapat-rapat
  • Menggigit bibir bawah
  • Respons vokalis:
  • Erangan
  • Manangi
  • Berteriak

17

 

  • Gerakan tubuh:
  • Menendang-nendang
  • Mebolak balikan tubuh

Respon fisiologi

  • Nyeri akut:
  • Peningkatan tekanan darah,nadi,pernapasan
  • Diaforesis
  • Dilatasi pupil
  • Jika nyeri belangsung lama,saraf  simpatik telah beradaptasi,respon fisiologi tersebut mungkin akan bekurang atau bahkan tdak ada

 

3.3 Penetapan diagnosa

  • Menurut NANDA(2003), diagnosa keperawatan untuk klien yang mengalami nyeri atau ketidak nyamanan adalah:

q Nyeri akut

q Nyeri kronis

Saat menulis pernyataan diagnoesa ,perawat harus menyebuttkan lokasinya(nyeri pegelangan kaki kanan)

3.4 Perencanaan dan implementasi

  • Tujuan asuhan keperawatan untuk klien yang mengalami ketidaknyaman atau nyeri bervariasi,bergantung pada diagnosis dan batasan karakteristiknya.

v Nyeri akut

  • Trauma pada perineum slm persalinan atau kelahiran
  • Trauma jaringan dan refleks spasme otot
  • Inflamasi(saraf,sendi,tenton,otot)

18

  • Efek kanker
  • Kram abdomen,diare,muntah
  • Inflamasi dan spasme otot polos
  • Trauma jaringan dan spsme otot refleks
  • Demam
  • Respons alergi
  • Iritan kimia

 

Kriteria hasilèindividu akan menyampaikan kepuasa setelah tindakan pereda nyeri yang diberikan

Intervensi  umum

  • kaji faktor yang menurunkan toleransi nyeri (ketidak percayaan orang lain ,kurang pengetahuan,keletihan,kehidupan yang menonton)
  • kurangi atau hilangkan faktor yang dapat meningkatkan nyeri
  • Ketidak percayaan orang lain
    • sampaikan penerimaan anda atas respons klien terhadap nyeri
    • akui nyeri yang klien rasakan
    • jelaskan pada klien bahwa bahwa anda mengkaji nyeri karena ingin memahami nyeri yang klien rasakan dengan baik (bukan untuk memastikan bahwa nyeri benar-benar terjadi)
    • jelaskan tentang konsep nyeri sebagai pengalaman yang bersifat pribadi
    • diskusikan alasan mengapa klien dapat mengalami peningkatan atau penurunan nyeri
    • Kurang pengetahuan
      • dorong kelurga untuk memberikan perhatian ,juga pada saat nyeri sedanag tidak terjadi
      • jelaskan mengenai mengenai penyebab nyeri kepada klien,jika penyebabnya diketahui
      • jelaskan lamanya nyeri akan berlangsung,jika dsiketahui secara pasti,
      • jelaskan tentang pemeriksaan diagnosa dan prosedur  yang akan dilakukan secara rinci
      • Keletihan
        • Tentuka penyebab keletihan
        • Jelaskan bahwa nyeri dpat mendukung terjadinya stres
        • Beri kesempatan klien untuk istirahat pada siang hari
        • Konsultasi dengan dokter untuk meningkatkan dosis obat
        • Kehidupan yang mononton
          • Diskusikan bersama klien dan keluarga mengenai manfaat terapieutik dari metode distraksi
          • Jelaskan bahwa distraksi biasanya akan meningkatkan intensitas nyeri
          • Variasika lingkungan
          • Ajarka beberapa metode distraksi

 

  • Kolaborasi bersama klien untuk menentukan metoda mana yang digunakan untuk mengurangi intensitas nyeri
  • Pertimbangkan kemauan klien,hal yang disukai,kontraindikasi,dll
  • Jelaskanberbagai metode pereda nyer
  • Diskusikan metoda nyeri yang akan di pakai

 

  • Beri pereda nyeri yang optimal
    • Kaji respons pasien terhadap obat-obat pereda nyeri
    • Kurangi atau hilangi efek smping narkotika umum
    • Bantu keluarga merespons positif terhadap pengalaman nyeri
    • Kaji pengetahuan keluarga dan respons terhadap nyeri
      • Beri klien kesempatan untuk mendiskusikan ketakutan,kemarahan,dll
      • Libatkan keluarga dalam prosedur untuk menurunkan nyeri
      • Berika informasi kepada klien setelah nyeri hilang
      • Dorrong klien untuk mendiskusikan nyeri yang dialami
      • Beri pujian untk kesabarn pasien
      • Lakukan penyuluhan kesehatan sesuai indikasi

 

 

 

 

 

Rasional

  • Jika klien harus meyakinkan tenaga kesehatan bahwa dia merasa nyeri ,kecemasan akan semakin meningkat dan persepsi nyeri
  • Klien yang mendapatkan penjelasan tentang sensasi sesungguhnya yang akan ia rasakan sebelum menjalani prosedur yang menyakitkan
  • Penelitian membuktikan bahwa otak manusia akan menyekresikan endorfin yang menghilangkan rasa nyeri

 

  • Penggunaan metode pereda nyeri noninvansin
  • Individu dewasa dan anak-anak yang mengalami nyeri merasa tubuh dan kehidupanya kehilangan konrol
  • Tidur yang tdk cukup dapt menurunkan individu untk menolerin nyeri
  • Penataan nyeri seharusnya dilakukan secara agresif dan individual
  • Intervensi nonfarmakologi menjadi pendekatan tindakan utama untuk nyeri

Pengelolaan non farmalogi

  • Teknik masase

Tidakan keperawatan dengan cara masase,dilakukan pada daerah superfesial atau otot,tulang

Hanya untuk membantu mengurangi rangsangan nyeri akibat terganggunya sirkulasi

Tujuan

  • Meningkatkan sirkulasi pada daerah yang dimasase
  • Meningkatkan relaksasi

Alat dan bahan:

  • Minyak untuk massase
  • handuk

 

Prosedur kerja

1)     Jelaskan prosedur yang akan dilakuakn

2)     Cuci tangan

3)     Lakukan mesase pada daerah yang dirasakan nyeri slma 5-10 menit

4)     Lakukan dengan telapak tngan dan jari dengan tekanan halus

  • gerakan tangan selang seling(tekanan pendek,cepat,bergantian tngan)èpinggang
    • Teknik remasan( menguap otot bahu)èbahu
    • Gerakan menggesek dengan ibu jari dan memutarèpunggung dan pinggang
    • Teknik eflurasi dengan kedua tanganèpunggung dan pinggang
    • Teknik petrisasi,menekan punggung secara horizontal
    • Tknik tekanan menyikat dengan menggunakan ujung jarièdaerah pinggang
    • Kompres panas basah

Tindakan ini dapat dilakukan pada pasien yang mengalani nyeri,resiko terjadi infeksi luka,dan kerusakan fisik

TUJUAN

  • Memperbaiki sirkulasi
  • Mengilangkan edema
  • Meningkatkan drainasrpus
  • Mengurangi rasa nyeri

Kompres basah pada luka terbuka

1)     Gunkan srung tangan

2)     Bsahi kasa steril dengan larutan pada magkuk kecil lalu peras

3)     Letakan perassan kasa pada daerah luka

4)     Tutup basa basah denga kering

5)     Tutup dengn balutan atau displester

6)     Cuci tngan

7)     Catat keadaan luka.drainase.warna,integritas,dan respon pasien

 

Kompres panas basah dengan buli-buli

1)     Buli-buli diisi air/larutan hangang buli-buli 1/3-2/3 bagian

2)     Di bungkus dengan kantong buli-buliah

3)     Letakan pada deerah luka

4)     Catt

5)     Cuci tngan

Kompres menggunakan elektrikal pad

1)    Periksa tegangan listrik

2)    Pasang stop kontak

3)    Atur panas

4)    Letakan electrical pad pada bagian yang akan di kompres

5)    Catt

6)    Cuci tngan

  • Kompres dingin basah
  •  Tidakan untuk memberikan rasa dingin dengan menggunkan lap atau kain yang di celupkan ke dalam air dingin,dilakukan pada paha

Tujuan

  • Menurunkan suhu tubuh pada penderita nyeri

Alat dan bahan

  • Baskom berisi air dingin
  • Pengalas
  • Kain
  • Termometer

Cara kerja

  • Jelaskan prosedur pda pasien
  • Cuci tngan
  • Ukur suhu tubuh
    • Pasang pengalas di bawah tempat yang akan di kompres
    • Basahi kain dengan air dingin
    • Letakan kainyang telah di basahi pada daerah aksila,dahi,atau lipatan paha
    • Cuci tngn
    • ctt
    • rendam

Digunakan cairn hangat yang dapat dilakukan pda daerah tngan,kaki,glutea,pada seluruh tubuh yng mengalmi gngguan integritas,sirkulasi,ketegangan otot,dan luka kotor

Tujuan

  • Mengendor oto,tendon,dan ligamen
  • Menghilngkan nyeri dan peradangan
  • Mempercept penyembuhab jaringan
  • Memperbaiki sirkulasi
  • Membersihkan luka kotor

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

Nyeri merupakan suatu gejala yang bersifat ojektif .hanya orang yang merasakan yang bisa mengungkapkan.kebutuhan dasar manusia untuk memenuhi rasa yang tidak nyaman atau nyeri ini,perawat perlu memperhatiakn ,mengkaji konsep dasar nyeri pada klien yangmengalami gngguan keamaman.

Saran

Semoga dengan memahami konsep dasar nyeri ini .kita bisa menerapkan dan membagi ilmu dalam menyelesaikan masalah gengguan tidak nyaman ini dalan kehidupan .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Sukidjo Notoatmodjo, 2001, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta

Mubarak Wahid Iqbal dan Chayatin Nurul, Ilmu Kesehatan Masyarakat: Teori dan Aplikasi, Salemba Medika, Jakarta, 2009.

Iqbal Mubarak,Wahit(2005), Pengantar Keperawatan Komunitas,Penerbit Sagung Seto.

Anderson, Elzabeth T. 2007. Buku Ajar Keperawatan: Teori dan Praktik. Alih Bahasa, Agus Sutarna, Suharyati Samba, Novayantie. Jakarta: EGC

depkes RI (1987).Pedoman teknik perawat dasar.jakarta:indonesia

Efendi, Ferry dan Makhfudli.2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktek Dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika .

Mubarak, Wahit Iqbal dan Chayatin, Nurul.2009. Ilmu Keperawatan Komunitas I: Pengantar dan Teori. Jakarta: Salemba Medika.

WWW.GOOGLE.COM

Posted in Uncategorized | Leave a comment